Menanti Gebrakan Angger Juwono dalam Menyelamatkan Jiwasraya

- Kamis, 10 Juni 2021 | 11:23 WIB
Angger Yuwono. (istimewa) (Wahyu Atmaji)
Angger Yuwono. (istimewa) (Wahyu Atmaji)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Tidak terlalu mengejutkan ketika akhirnya Angger P Juwono, yang sebelumnya direktur teknik, dipilih menjadi Dirut BUMN PT Jiwasraya.

Pilihan itu tentu bukan sekedar karena rekam jejaknya di industri asuransi hampir empat dasawarsa, dengan bekerja di sejumlah perusahaan lokal dan multinasional.

Tetapi juga karena sudah teruji dan terbukti sukses menangani sejumlah perusahaan bermasalah.

Baca Juga: Penjualan Properti di Masa Pandemi Meningkat

Kelahiran Magelang ini dikanal sebagai "montir" ahli mereparasi mesin asuransi yang ngadat.

Bisa bermasalah karena pengelolanya.

Bisa juga karena produk yang dijualnya tidak tepat.

Baca Juga: Dolar Sedikit Menguat dan Keluar dari Posisi Terendah pada Kamis Pagi

Bisa pula karena pengelolaan investasi yang salah.

Bagi Angger yang paham betul soal-soal seperti ini, maka tindakannya bisa tidak populer.

Misalnya, mengaputasi pekerja yang kelewat banyak, tatkala menjadi Dirut Tugu Mandiri, kala itu.

Menganalisa, mendiagnosa,menentukan langkah, dan mengesekusinya secara efektif merupakan keahliannya.

Sebagai konsekwensinya ia bukan sekali disingkirkan oleh "orang kuat" di manajemen yang mengontraknya karena merasa terusik.

Angger, akrab dipanggil Ipang, jika diruntut ke belakang, seperti sadar mengukir jalan masa depannya sejak masih di SMA Pendowo Magelang.

Sebagai remaja ia seperti lainnya, suka nge-disco, pesta, main musik, dolan, pacaran.

Tapi ada hal yang tak dilakukan kebanyakan siswa ditempuhnya.

Ia rajin les privat matematika dan fisika.

Maka jadilah ia paling pintar di kelasnya.

Anak Boton ini juga tidak pelit berbagi ilmu.

"Saya termasuk yang diajarinya sambil tak lupa bermain gitar dengan beberapa teman," kata Ipang.

Sikap dan tindakannya yang efektif ini ditingkatkan saat kuliah di Mipa ITB jurusan matematika. Lulus dari sana menjadi asisten profesornya yang juga konsultan asuransi.

Inilah awal Ipang mengenal asuransi yang lalu mengantarkannya menjadi aktuaris.

Mendirikan Perusahaan

Tatkala ia harus berhenti dari jabatannya sebagai dirut sebuah asuransi besar, ia tak larut dalam kekecewaan.

Segera ia bangun perusahaan event organizer, konsultan  keuangan, dan dana pensiun.

Dari orang yang biasa dilayani berubah menjadi pelayan dilakukannya dengan serius.

Sejumlah seminar nasional maupun internasional digelarnya di berbagai kota.

Ipang memadukan bekerja, rekreasi, olah raga, hiburan, menjadi satu.

Maka Bali paling sering dipilihnya.

Tercatat sejumlah BUMN menjadi client-nya.

"Andai kita bikin di Jakarta atau Puncak, orang datang hanya ngisi presensi lantas pergi entah ke mana. Saat penutupan muncul lagi. Maka harus dicari cara supaya mereka betah mengikuti," ucap penggemar golf, renang, dan sepeda ini.

Anak ke-4 dari 9 bersaudara keluarga Yuwono ini pekerja keras.

Tak jarang ia tidur di depan laptopnya.

Ia tak pernah jera berjualan kemampuannya.

"Kita harus berterima kasih jika melakukan 10 kali presentasi ada satu perusahaan yang mau membeli," ujarnya.

Ayah tiga anak ini juga bertangan dingin di bidang lain.

Ia sukses mengelola restoran keluarga di daerah sejuk Bandongan Magelang.

Hobi lain yang tak ditinggalkannya adalah bermain musik.

Dikumpulkannya teman-teman SMA-nya lalu membentuk band iPros.

Band dengan kekuatan memadukan vokal sejumlah penyanyi.

Pengiringnya juga musisi senior.

Maka iPros cukup laris manggung di Magelang dan sekitarnya.

Kini ladang baru menantangnya justru di usia tidak muda lagi.

Jika yang lain lebih memilih menikmati masa pensiun Ipang justru dipanggil untuk membuktikan sekali lagi kepiawaiannya sebagai montir perusahaan asuransi.

Jiwasraya mengalami kerugian puluhan triliun rupiah di bawah manajemen sebelumnya.

Selain adanya mismatch dalam pengelolaam juga ada korupsi.

Saat ini para tersangkanya sudah diadili dan Jiwasraya harus diselamatkan.

Diselamatkan asetnya, perusahaanya, dan yang utama mengembalikan kepercayaan masyarakat.

Di masa lalu Jiwasraya meneribitkan produk Savings Plan yang menawarkan guaranteed return sembilan hingga 13 persen selama 2013 hingga 2018 dengan periode pencairan setiap tahun.

Hal ini yang dianggap Ipang yang tidak masuk akal.

Sebab return yang dihasilkan Jiwasraya Saving Plan saja lebih besar dibandingkan tingkat bunga deposito, bond yield dan lainnya.

Akar masalah utama memang terletak pada produk tradisional dengan skema garansi tinggi jangka panjang, serta produk Saving Plan dengan guaranteed rate di atas suku bunga perbankan.

Situasi tersebut diperparah dengan investasi yang bersifat high risk dan return financial instrument yang berpengaruh terhadap menurunnya tingkat kepercayaan pemegang polis.

Itu kemudian menyebabkan harga financial instrument dan likuiditas pasar turun, sehingga pencairan investasi bermasalah.

Akibatnya, penundaan pembayaran polis jatuh tempo serta adanya potensi operasional perusahaan akan selalu merugi di tahun-tahun berikutnya.

Bagi Ipang mengelola uang nasabah harus menerapkan prinsip hati-hati dalam berinvestasi.

Harus berpikir dua kali melakukan investasi pada high risk asset untuk mengejar high return.

Saat ini tekanan likuiditas dari produk Savings Plan Jiwasraya masih berdampak terhadap penurunan kepercayaan nasabah yang menyebabkan merosotnya penjualan.

Jiwasraya juga tidak memiliki backup asset yang cukup untuk memenuhi kewajiban sehingga terjadi kasus gagal bayar.

Sementara melemahnya solvabilitas tercermin dalam nilai aset Jiwasraya yang tidak sesuai dengan nilai pasar.

Sehingga harus dilakukan impairment asset, ekuitas negatif sebesar Rp 23,9 triliun dan rasio solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) negatif sebesar 805 persen per September 2019, tambahan admitted asset untuk mencapai RBC minimal 120 persen.

Hingga pembentukan cadangan (liabilitas understated) aset belum dilakukan impairment (overstated).

Inilah beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Ipang bersama direksi dan manajemen Jiwasraya saat ini.

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X