Bonsai, antara Katarsis dan Prospek Bisnis

- Rabu, 9 Juni 2021 | 15:55 WIB
PAMERAN BONSAI: Seorang pengunjung mengamati tanaman bonsai yang dipamerkan di Balkondes Tuksongo. (suaramerdeka.com/Asef Amani)
PAMERAN BONSAI: Seorang pengunjung mengamati tanaman bonsai yang dipamerkan di Balkondes Tuksongo. (suaramerdeka.com/Asef Amani)

TANAMAN hias kala pandemi Covid-19 banyak diburu. Ia semacam katarsis bagi segelintir orang saat interaksi antarmanusia dibatasi ruang geraknya.

Mereka berbondong-bondong membeli tanaman sekaligus belajar tata cara perawatannya, sebutlah tanaman Janda Bolong, Sri Rejeki, Monstera atau Aglaonema.

Namun, ada tanaman yang penjualannya tidak signifikan tetapi memiliki prospek harga fantastis, yakni bonsai.

Iwan Widiatmoko, pengusaha tanaman hias dan bonsai Kebonsae Borobudur mengaku bonsai menjadi penolong ekonomi keluarganya di masa pandemi. Hanya berselang 2-3 minggu sejak Covid-19 mulai menyebar, penjualan bonsai naik sekitar 50 persen.

Baca Juga: Antrean Panjang di Sentra Vaksinasi Gradhika, Ganjar Ikut Bantu Tertibkan Warga

"Peminat bonsai, seperti bibit atau alat-alatnya malah naik. Kemungkinan besar karena mereka jenuh di rumah. Banyak yang bekerja di rumah. Waktu pandemi banyak di rumah, jadi ngurus bonsai," ujarnya di Pameran dan Kontes Bonsai Songo Doyo, di Balkondes Tuksongo, Borobudur, belum lama ini.

Pameran yang diinisiasi Komunitas Oyot Desa Tuksongo itu menampilkan ratusan bonsai dari 286 peserta se-Magelang dan berlangsung beberapa hari.

Dari ratusan tanaman itu, Iwan tidak mengetahui persis kisaran harga penawaran tertinggi karena biasanya para pemilik enggan memberikan informasi.

Namun, ia menaksir hingga puluhan juta rupiah.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X