Yield Obligasi Amerika Serikat Menurun, Rupiah Berpeluang Menguat

Ant
- Kamis, 3 Juni 2021 | 12:43 WIB
Rupiah. (suaramerdeka.com / Cun Cahya)
Rupiah. (suaramerdeka.com / Cun Cahya)

JAKARTA, suaramerdeka.com –  Seiring menurunnya imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat, nilai tukar (kurs) Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis berpeluang menguat.

Dalam pembukaan, Rupiah menguat 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.270 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.280 per dolar AS.

"Rupiah mungkin berpotensi menguat hari ini dengan terkoreksinya kembali yield obligasi AS tenor 10 tahun ke bawah 1,6 persen," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra dilansir Antara.

Baca Juga: Belanja Negara Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Ini Kata Mendagri

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sekarang terlihat bergerak di bawah 1,59 persen. Yield tersebut, kata Ariston, masih bergerak konsolidatif mengikuti perubahan ekspektasi pasar terhadap perubahan kebijakan moneter di AS.

Data penting tenaga kerja AS juga masih dinantikan pasar malam ini dan besok malam. Hasil yang bagus bisa mendorong ekspektasi perubahan kebijakan moneter AS yang lebih ketat dalam waktu dekat.

"Ini bisa mendorong kenaikan yield AS kembali dan penguatan dolar AS," ujar Ariston.

Ariston mengatakan rupiah hari ini berpotensi menguat ke arah Rp14.250 per dolar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp14.300 per dolar AS.

Pada Rabu (2/6) lalu, rupiah ditutup stagnan alias sama dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.280 per dolar AS

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BRI Cabang Demak Jadi Bank Berkinerja Terbaik

Rabu, 16 Juni 2021 | 18:46 WIB

Menkeu Sayangkan Adanya Isu PPN Sembako

Kamis, 10 Juni 2021 | 23:04 WIB
X