Pelaku IKM Baja Ringan Terancam Gulung Tikar

- Jumat, 14 Mei 2021 | 15:29 WIB

JAKARTA, suaramerdeka.com - Melonjaknya harga baja di pasar dunia akan berimbas pada indusri kecil menengah baja ringan nasional apalagi produsen lokal yang belum bisa memenuhi keseluruhan permintaan bahan baku dimana mulai menggeliatnya ekonomi nasional setelah sebelumnya di 2020 terpuruk akibat pandemic Covid-19.

Ir Liang Wali MBA, Ketua Umum Perkumpulan Seluruh Industri Baja Rigan Indonesia (PERSIBRI) dalam webinar yang diselenggarakan oleh asosiasi pelaku usaha baja ringan dengan tajuk “Lonjakan Harga Baja Dan Ancaman Anti Dumping,” yang diselenggarakan pada Jumat (14/5), mengatakan bahwa dari 45 anggota pelaku IKM yang tergabung di organisasinya hampir 50%  kesulitan mendapatkan bahan baku.

“ Mahalnya bahan baku industri baja memaksa para pelaku usaha untuk mengurangi produksi bahkan ada yang sudah tidak beroprasi, kondisi ini hampir dialami oleh separuh para pelaku IKM baja ringan,” ujar Wali.

Wali menjelaskan, saat ini modal usaha pelaku IKM yang tahun lalu bisa digunakan untuk belanja bahan baku hingga 200 ton pada tahun ini, namun penggunaan modal usaha tersebut hanya bisa dibelanja separuhnya.

“Melonjaknya harga baja di dunia hingga 100% pada tahun ini menjadi sebuah ancaman yang sangat serius bagi kami selaku pelaku usaha IKM Baja Ringan Nasional, apalagi produsen bahan baku BjLAS dalam negeri belum bisa memenuhi permintaan secara keseluruhan,’ ujarnya.

Wali menambahkan, pihaknya mencatat di tahun 2020 total kebutuhan BjLAS menurun menjadi 1,1 juta ton yang bersumber dari import 460 ribu ton sedangkan industri dalam negeri hanya mampu mensuplay 718ribu ton, sementara di tahun 2021 diperkirakan kebutuhan Baja di tahun ini 1,8 sampai 2 juta ton.

“Selama ini jelas secara histori produsen bahan baku baja ringan dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan bahan baku kami para pelaku usaha IKM, belum lagi saat ini makin mahalnya harga bahan baku sementara disatu sisi permintaan pasar atas produk BjLAS terutama di tahun ini makin meningkat. Kondisi demikian harus bisa disikapi dengan proporsional dan bijak jangan sampai pemerintah selaku regulator yang berwenang malah melakukan langkah-langkah yang salah yang berakibat mematikan industri baja ringan,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama Fajar Adriansyah pelaku usaha IKM baja ringan menyatakan hal senada, bahkan dirinya khawatir kondisi pelaku IKM baja ringan makin terpuruk jika pemerintah dalam hal ini kementrian perindustrian dan perdagangan memaksakan penerapan anti dumping terhadap sektor BjLAS.

“Kami pelaku usaha sudah jatuh akan tertimpa tangga kalo sampai pemerintah malah memaksakan kebijakan anti dumping  apalagi harga baja dunia saat ini mengalami kenaikan yang signifikan,” jelas Fajar.

Halaman:

Editor: Achmad Rifki

Terkini

BSN Bikin Etalase Digital Produk UKM Ber-SNI

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:25 WIB

Program BI Religi Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:12 WIB
X