Inovasi Balitbangtan Tingkatkan Daya Saing Lada Lampung

- Senin, 5 April 2021 | 06:30 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

BANDAR LAMPUNG, suaramerdeka.com - Lada merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang tengah fokus dikembangkan pemerintah melalui peningkatan produksi dan daya saing. Peningkatan produksi dan daya saing tersebut diharapkan dapat berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani serta menggenjot ekspor pertanian Indonesia.

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi, dan daya saing lada, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) akan mengadakan serangkaian kegiatan di Provinsi Lampung.  Hal ini disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Perkebunan, Syafaruddin, dalam audiensi dengan Gubernur Lampung, Arinal Djunaedi, di Mahan Agung, Bandarlampung, belum lama ini.

Lampung merupakan sentra penghasil lada hitam didunia yang terkenal dengan “Lampung Black Pepper”, namun produktivitas ladanya masih rendah yaitu sekitar 500 kg/ha. Rendahnya produktivitas lada antara lain disebabkannya kurangnya pemeliharaan tanaman seperti pemupukan, pengelolaan tiang panjat, irigasi kebun serta akibat berkembangnya penyakit busuk pangkal batang (BPB) dan serangan hama penggerek batang.

Baca juga: Lada Banjarnegara Siap Tembus Pasar Ekspor, Ekspansi Melalui Kemitraan

Hal tersebut ditimbulkan akibat pengelolaan budidaya pada perkebunan lada belum terpadu. Dimulai dari teknologi pemupukan. Di wilayah ini akan diaplikasikan teknologi pemupukan yang sebelumnya  telah dilakukan di Kebun Sukamulya, Sukabumi, yaitu manajemen pemupukan dengan menggunakan  aplikasi fertigasi robotik yang dapat mengelola hara dan air secara akurat pada lada, dan mampu meningkatkan pertumbuhan lada lebih baik.

Untuk mengatasi hal tersebut Balitbangtan berencana melakukan serangkaian kegiatan, pendampingan teknologi, peningkatan nilai tambah, pembuatan demplot, dan pengembangan kawasan berbasis korporasi.

Pendampingan teknologi meliputi perbenihan, pembangunan kebun induk, budidaya yang sesuai Good Agricultural Practices (GAP), dan pengelolaan pascapanen serta diversifikasi produk. “Pembuatan demplot sesuai GAP dilakukan dengan membangun kebun sumber benih, kebun induk, dan rehabilitasi atau intensifikasi kebun eksisting,” ujar Syafaruddin.

Baca juga: Batu Meteor Timpa Rumah Warga di Lampung Tengah

Syafaruddin melanjutkan bahwa pengembangan kawasan berbasis korporasi dimaksudkan untuk memperkuat konsolidasi petani dalam kelembagaan usaha ekonomi modern, dan meningkatkan aksesibilitas petani terhadap permodalan. “Selain itu juga dapat meningkatkan konektivitas kemitraan dengan industri pengolahan dan perdagangan modern, serta mendorong modernisasi pertanian dan integrasi dengan fasilitas atau infrasruktur publik,” jelasnya.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X