Penghapusan NTM pada Komoditas Pangan Akan Bantu Tekan Harga

- Jumat, 2 April 2021 | 11:36 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramrdeka.com - Penghapusan Non Tariff Measures (NTM) pada komoditas pangan dan pertanian akan membantu menekan harga pangan di Indonesia, sehingga pengeluaran masyarakat untuk makanan juga akan berkurang. Hal ini akan membantu keluarga untuk keluar dari kemiskinan. Penghapusan NTM pada beras akan memberikan dampak yang cukup besar, yaitu 2,52 persen.

Sementara itu penghapusan NTM pada daging berkontribusi mengurangi kemiskinan sekitar 0,21 persen. Penghapusan NTM untuk beras dan daging akan berdampak sebesar 2,83 persen. Ketimpangan, yang diukur dengan koefisien Gini, juga diperkirakan akan turun jika NTM dihilangkan pada beras dan daging, yaitu sebesar 1,76 persen.

Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, penurunan ini lebih signifikan di pedesaan (2,5 persen) dibandingkan di perkotaan (0,98 persen). Selain itu, konsumsi pangan yang diukur dari pengeluaran beras dan daging akan meningkat.

Baca juga: Simplifikasi Kebijakan Non-Tarif di Komoditas Pangan Dapat Membantu Mengurangi Angka Kemiskinan

“Perkiraan ini menggambarkan mengapa Indonesia harus mengurangi NTM pada pangan dan komoditas pertanian untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan indikator gizi lainnya. Menghapus kuota dan beralih ke lisensi impor otomatis adalah dua perubahan yang diharapkan dapat menghasilkan keuntungan terbesar. Liberalisasi perdagangan pangan harus dibarengi dengan meningkatnya persaingan antar importir, perbaikan sistem untuk memfasilitasi proses impor, dan inovasi kebijakan pertanian untuk meningkatkan daya saing produsen dalam negeri,“ terangnya.

Felippa melanjutkan, perdagangan pangan Indonesia dapat lebih diliberalisasi dengan menyiapkan sistem perizinan impor otomatis / automatic import licensing system. Automatic import licensing system membuka kesempatan impor untuk importir terdaftar dan hanya dikelola untuk mengumpulkan informasi statistik dan faktual lainnya tentang impor, berdasarkan data WTO 2020.

Penggunaan sistem ini mengurangi berbagai penundaan akibat proses birokrasi dan menghilangkan peluang korupsi. Automatic import licensing system tidak menghapus persyaratan SPS yang diperlukan yang menjamin kualitas dan keamanan pangan atau NTM teknis yang menjamin standar. Yang akan dilakukan adalah memfasilitasi proses impor dengan mengizinkan importir untuk mengimpor kapan saja tanpa harus bergantung pada keputusan pemerintah.

Baca juga: Indonesia Perlu Implementasikan Sistem Perizinan Impor Otomatis, Jaga Ketahanan Pangan

Sistem perizinan impor otomatis akan menciptakan persaingan yang lebih besar antara importir untuk menguntungkan konsumen dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Persaingan akan meningkat karena izin impor tidak lagi diberikan berdasarkan kebijaksanaan pejabat Kementerian, tetapi secara adil kepada importir terdaftar yang ingin memasuki pasar.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Koperasi Mitra BI Ekspor Kopi ke Saudi Arabia

Jumat, 17 September 2021 | 20:35 WIB

Peran Dipertajam, Koperasi Sejenis Diminta Merger

Jumat, 17 September 2021 | 20:30 WIB

Kinerja PT KIW Tetap Positif di Masa Pandemi

Jumat, 17 September 2021 | 20:07 WIB

Pandemi, Pertumbuhan Investor Justru Makin Bersemi

Jumat, 17 September 2021 | 15:21 WIB
X