Saham BUMN Jadi Buruan dan Primadona Investor, Erick Thohir: Memang Lagi Hot

- Senin, 22 Maret 2021 | 07:15 WIB
SILATURAHMI MENTERI BUMN: Menteri BUMN Erick Thohir berfoto bersama CEO Suara Merdeka Network Kukrit Suryo Wicaksono dan manajemen, setelah bersilaturahmi ke Gedung Menara Suara Merdeka Jl Pandanaran Semarang, Minggu (21/3). (suaramerdeka.com / Maulana M Fahmi)
SILATURAHMI MENTERI BUMN: Menteri BUMN Erick Thohir berfoto bersama CEO Suara Merdeka Network Kukrit Suryo Wicaksono dan manajemen, setelah bersilaturahmi ke Gedung Menara Suara Merdeka Jl Pandanaran Semarang, Minggu (21/3). (suaramerdeka.com / Maulana M Fahmi)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Saat ini saham perusahaan-perusahaan plat merah sedang menjadi buruan dan primadona investor. Dalam bahasa Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, saham-saham BUMN sedang hot-hotnya. ”Harus diakui, saat ini saham BUMN lagi hot,” kata Erick saat berkunjung ke Kantor Suara Merdeka Network, kemarin.

Dia diterima CEO Suara Merdeka Network Kukrit Suryo Wicaksono dan awak Suara Merdeka Network. Menurut Erick, ada beberapa faktor yang membuat saham BUMN menjadi bergairah. Salah satunya adalah setelah terkuak skandal ”goreng” saham yang melibatkan PT Jiwasraya, para pemain saham pada posisi wait and see.

Banyak perusahaan tidak melakukan transaksi, sehingga membuat market sepi. Pada kondisi itu, lanjut Erick, banyak pemain saham individu yang bermain. ”Mereka mencari yang aman, pada saat itulah saham BUMN menjadi pilihan,” kata dia.

Baca juga: Gulirkan Sentra Vaksin BUMN, Erick Thohir: Upaya Percepatan Vaksinasi

Selain itu, dia menyebutkan, langkah transformasi yang saat ini dilakukan di perusahaan pelat merah menjadi sentimen positif di kalangan pelaku pasar selama beberapa waktu terakhir. Pengembangan baterai untuk mobil listrik yang digenjot BUMN, juga merger bank syariah memicu respons positif pemain saham. Tidaklah keliru kemudian saham perusahaan BUMN diborong dalam beberapa waktu terakhir.

Tetapi harus diakui, lanjut dia, hampir 90 persen BUMN juga terdampak pandemi. Karena itu, sejak awal ditugasi Presiden Joko Widodo untuk melakukan langkah-langkah percepatan, dia langsung bergerak. ”Pertama yang harus dilakukan adalah efisiensi dan fokus pada bisnisnya,” tandas dia.

Menurutnya, sangat tidak mungkin saat ini negara mengelola 143 BUMN. Jumlah jumbo perusahaan plat merah tersebut harus diciutkan. ”Makanya kita mengecilkan dari 27 klaster menjadi 12 klaster. Dari 143 menjadi 41 perusahaan di 12 klaster,” ujar dia.

Baca juga: Menteri BUMN Erick Thohir Ingin Ultra Mikro Naik Kelas

Namun pandemi ini juga memengaruhi pertumbuhan perusahaan. ”Kena Covid, sakit juga, makanya kita fokus ke bisnis. Suka tidak suka kita butuh dibantu tim lain, karena itulah kita menaruh orang-orang bagus di komisaris,” tuturnya.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X