Tingkat Adopsi Teknologi Petani Berbeda-beda, Perlu Pendampingan

- Jumat, 19 Maret 2021 | 11:48 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

KAPUAS, suaramerdeka.com - Peneliti Balitbangtan, Dr. Susilawati menuturkan, tingkat adopsi teknologi di tingkat petani berbeda-beda untuk wilayah Kalimantan Tengah. Untuk itu, perlu adanya pendampingan serta menyediakan demplot di setiap titik agar para petani merasa dekat dengan teknologi yang dihadirkan.

Teknologi yang dimaksud adalah pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT) padi rawa yang disebut dengan RAISA (Rawa Insentif Super Aktual). Dalam RAISA, terdapat komponen teknologi yang sudah dihasilkan Balitbangtan seperti penggunaan varietas, penggunaan amelioran, sistem tata air, rekomendasi pemupukan serta pengendalian hama penyakit berdasarkan spesifik wilayah.

Berdasarkan kajian khusus yang telah dilakukan Balitbangtan di lahan rawa lima kabupaten di Kalteng, dari beberapa komponen RAISA, salah satu komponen teknologi yang sulit diadopsi petani itu adalah pengelolaan tata air. Sementara yang paling mudah diterima adalah varietas dan cara tanam jajar legowo.

Baca juga: Teknologi Balitbangtan Ubah Kebiasaan Petani Lahan Rawa Jadi Lebih Modern

“Untuk varietas unggul dan cara tanam jajar legowo hampir semua petani telah mengimplementasikannya secara mandiri, tapi untuk pengelolaan air masih sulit diadopsi karena perlunya keterlibatan pihak lain dalam pembangunan infrastrukturnya”, ungkap Susi.

Sebagai solusi, petani diminta untuk menyiapkan petakan dan pintu-pintu air melalui program Padat Karya. “Melalui Padat Karya kita bisa berdayakan petani. Mereka sudah memahami bagaimana tata air satu arah yang baik di lahan rawa, tapi kalau pintunya tidak tersedia seperti apa? Nah untuk itu harus lebih kita giring lagi mereka untuk dapat mengelola air dari petakan perorangan maupun petakan kelompok atau gabungan kelompok taninya,” kata Susi.

Terkait percepatan adopsi inovasi teknologi, Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa pihaknya terus mendorong implementasi hasil riset di masyarakat. “Target kita bukan hanya output tapi juga outcome, bagaimana teknologi itu bisa digunakan dan diterapkan serta bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Hingga saat ini, Balitbangtan sendiri telah menghasilkan ratusan teknologi di bidang pertanian. Lebih dari 300 hasil riset tersebut telah mendapatkan paten dan didorong untuk dilisensi. Hasil riset Balitbangtan yang paling banyak dilisensi hingga sekarng adalah varietas tanaman.

Editor: Andika

Tags

Terkini

X