Pesantren Bisa Kuasai Ekonomi Syariah, Terungkap Kendalanya

- Rabu, 17 Maret 2021 | 11:36 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com –  Pondok pesantren punya peluang besar untuk menguasai ekonomi syariah mengingat pesantren memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan keuangan syariah dan dasar-dasar hukum ekonomi Islam. Para santri sangat mengenal istilah murabahah, mudharabah, dan musyarakah, apalagi dasar ekonomi syariah bersumber dari kitab-kitab kuning.

"Pertama, dari aspek sejarah kita tidak kurang-kurang. Artinya dari sisi dasar (pesantren) kita sudah lebih cukup untuk bergerak," kata Ketua Rabithah Maahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) saat diskusi virtual peluncuran lembaga pusat keuangan syariah atau Center for Sharia Finance and Digital Economy (Shafiec) Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.

Di samping itu, berbagai kitab fikih yang dipelajari di pesantren selalu terdapat pembahasan mengenai muamalah. "Jadi istilah murabahah, mudharabah, dan musyarakah itu sudah dikenal sejak anak-anak kita, para santri, setidaknya kelas diniyah ula atau diniyah wustha atau kelas satu tsanawiyah. Itu sudah dikenal," tutur pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen Margoyoso, Pati, Jawa Tengah ini.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Syariah Masih Jauh dari Target, Ini Penjelasan Wapres

Peluang pesantren dalam penguasaan ekonomi syariah sejalan dengan fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) yang selama ini menjadi dasar ekonomi syariah pun bersumber dari kitab-kitab kuning yang dipelajari di pesantren.  "Jumlah pesantren juga sangat banyak di Indonesia. Saya kira kalau kita melihat dari aspek itu, cukup besar (peluang pesantren menguasai ekonomi syariah)," kata Gus Rozin.

Namun realitas, menurut Gus Rozin, literasi keuangan di pesantren masih harus terus dan perlu untuk mendapatkan perhatian sangat besar. Banyak pesantren-pesantren salaf yang kecil, literasi digital keuangan syariah masih menjadi persoalan. 

"Pesantren-pesantren yang sangat besar seperti Pesantren Sidogiri, saya kira itu sudah selesai. Tetapi kalau kita melihat mayoritas pesantren kita, terutama pesantren salaf, yang bukan pesantren yang besar, literasi keuangan dan digital itu masih menjadi problem," katanya.

Baca juga: Kemenpora Dorong Santri Berwirausaha Lewat Pesantrenpreneur

Pencatatan keuangan di pesantren pun hingga kini masih belum menjadi kesadaran secara umum. Pesantren bisa mendapat layanan lembaga finansial formal belum banyak. Semuanya, masih dijalankan secara konvensional.  "Jadi kalau kita melihat antara peluang yang sangat besar dengan realitas yang ada sekarang, pekerjaan kita masih banyak. Walaupun saya kira dengan kesadaran para kiai muda saat ini, peluang (menguasai ekonomi syariah) menjadi lebih besar," ujar Gus Rozin.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

BSN Bikin Etalase Digital Produk UKM Ber-SNI

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:25 WIB

Program BI Religi Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:12 WIB
X