Kunjungi Kampung Garam Kebumen, Menteri Trenggono Dorong Pemasaran Online

- Jumat, 12 Maret 2021 | 15:31 WIB
KAMPUNG GARA:  Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono didampingi Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH saat mengunjungi Kampung Garam di Desa Tlogopragoto, Kecamatan Mirit, Kebumen, Jumat (12/3). (suaramerdeka.com/Supriyanto)
KAMPUNG GARA: Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono didampingi Bupati Kebumen H Arif Sugiyanto SH saat mengunjungi Kampung Garam di Desa Tlogopragoto, Kecamatan Mirit, Kebumen, Jumat (12/3). (suaramerdeka.com/Supriyanto)

KEBUMEN, suaramerdeka.com -  Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat mengunjungi Kampung Garam di Desa Tlogopragoto, Kecamatan Mirit, Kebumen mendorong masyarakat dan pemerintah daerah memasarkan garam yang dihasilkan secara online. Sejauh ini sudah berjalan namun dinilai masih belum maksimal.

Penjualan garam secara online menurut Trenggono dapat mempermudah penjual dan pembeli sehingga diharapkan penyerapan terhadap garam yang diproduksi bisa lebih maksimal. Dengan demikian penghasilan petambak garam ikut meningkat.

"Penjualan lewat online itu sangat bagus. Kita harus dorong agar tidak ada tengkulak," ujar Menteri Trenggono dalam kunjungan kerja di Kebumen, Jumat (12/3).

Baca Juga: Perikanan dan Kelautan Berpeluang Jadi Lokomotif Perekonomian

Produksi garam di Kebumen meningkat sejak dibangunnya tunnel garam di Desa Tlogopragoto, Kecamatan Mirit. Dalam sekali produksi, kampung garam ini bisa menghasilkan sekitar 7,2 ton yang didominasi garam kosmetik.

Tunnel produksi di kampung garam jumlahnya mencapai 40 unit dan mulai dioperasikan sejak akhir 2020. Pembuatan tunnel ini bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang digagas pemerintah untuk membantu perekonomian masyarakat di masa pandemi Covid-19.

Kelompok petambak garam Cirat Segoro Renges yang berproduksi di Kampung Garam. Terdapat 26 anggota di dalamnya dan yang mereka hasilkan adalah garam kosmetik serta garam konsumsi. Harga jual per kilogramnya di kisaran Rp 30.000 sampai Rp 40.000 dengan pasar sekitaran DI Yogyakarta dan Lampung.

Ketua Kelompok Cirat Segoro Renges Budi Santoso menyebut penjualan garam melalui online dengan memanfaatkan media sosial. Dia berharap adanya bimbingan dari pemda dan juga UPT KKP supaya penjualan bisa lebih masif.

"Kami sudah jual lewat online tapi masih belum banyak. Kebanyakan yang beli datang langsung. Tapi kan ke depannya memang harus online. Kami harap ada pendampingan supaya pengemasan dan promosi yang dilakukan secara online lebih besar hasilnya," urai Budi Santoso.

Halaman:

Editor: Maya

Tags

Terkini

Pandemi Melandai, Komoditas Kopi Kembali Bersemi

Jumat, 28 Januari 2022 | 22:15 WIB
X