Batik Rajah, Angkat Potensi Kota Magelang Bergaya Lukisan dan Filosofis

- Rabu, 3 November 2021 | 11:07 WIB
Perajin batik menuangkan malam dengan kuas di atas kain di workshop Batik Rajah Kota Magelang yang mengangkat potensi daerah dengan gaya lukisan dan filosofis. (suaramerdeka.com/Asef Amani)
Perajin batik menuangkan malam dengan kuas di atas kain di workshop Batik Rajah Kota Magelang yang mengangkat potensi daerah dengan gaya lukisan dan filosofis. (suaramerdeka.com/Asef Amani)

MAGELANG, suaramerdeka.com - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Magelang terus berkembang. Meski di masa pandemi Covid-19, UMKM menjadi salah satu sektor ekonomi yang tetap bertahan. Salah satunya usaha batik yang perkembangannya terus didukung oleh Pemerintah Kota Magelang.

Mencari batik di Kota Magelang tidaklah sulit. Banyak usaha batik yang dikembangkan oleh masyarakat dengan beragam motif menarik.

Di antara sekian banyak usaha batik, Batik Rajah salah satunya yang memiliki ciri khas warna cerah, motif kontemporer, identik dengan gaya lukisan, dan penuh filosofi.

Baca Juga: Akselerasi Transformasi Digital Dukung Sektor Pelayaran dan Kepelabuhanan

Kaji Habib, sang perajin sekaligus pemilik Batik Rajah mengatakan, sudah lima tahun ini usahanya berjalan dan konsisten dengan gaya lukisan. Hal ini tak lepas dari latar belakangnya sebagai seorang seniman lukis lulusan ISI Yogyakarta.

“Awalnya saya memang melukis dengan filosofi yang tinggi. Lama kelamaan terpikir untuk menuangkan keahlian saya melukis ke dalam bentuk batik. Selain karya seni saya dapat dikenakan dalam bentuk pakaian, juga memiliki nilai ekonomi,” ujarnya di workshopnya, kemarin.

Dia menuturkan, motif yang dibuatnya berupa kontemporer yang inspirasinya datang dari kekayaan Kota Magelang.

Baca Juga: Ketika Kearifan Lokal, Sang Milenial dan Digital Berpadu Padan dalam Sebungkus Cilok Goreng

Kekayaan ini bukan semata dalam wujud fisik yang dapat dilihat dan diamati, seperti bangunan atau benda lainnya, tapi dari sisi lainnya, yakni spiritual.

“Misalnya yang terbaru motif Rajah Watu Anteng. Inspirasinya dari batu-batu di Kaliprogo yang istikomah meski diterjang derasnya aliran air. Ada juga motif Papat Kiblat Lima Paner, Tarian Jaman, Samudra Makna, dan lainnya," katanya.

Seperti batik umumnya, Batik Rajah pun dibuat dengan alur yang sama dari pembuatan sketsa, menuangkan cairan malam, pengecelupan, dan penjemuran. Hanya saja, bedanya ia tidak menggunakan canting untuk menuangkan cairan malam tapi dengan kuas.

“Ini ciri khas saya pakai kuas. Jadi, membatik itu seperti melukis. Pekerja yang membantu saya pun menggunakan kuas, sehingga kalau membuat garis cenderung berukuran lebih besar dibandingkan memakai canting,” jelasnya.

Selain itu, ciri khasnya lagi memakai warna-warna yang cerah. Utamanya warna kuning yang menandakan cahaya/sinar yang merupakan kekayaan alam.

Warna kuning juga simbol kebahagiaan dan ilmu pengetahuan, sehingga bagi yang mengenakannya diharapkan ikut bahagia.

Apa yang menjadi usahanya ini pun mendapat respon pasar yang bagus.

Tak jarang setiap kali ikut pameran baik di dalam maupun luar Kota Magelang selalu laku terjual.

Bahkan, banyak pesanan yang datang dari luar kota dengan beragam kalangan, terutama menengah ke atas.

“Segmen pasar saya memang menengah ke atas, karena dari harga jual juga lumayan. Pernah batik saya terjual Rp 3 juta lebih oleh customer dari luar kota. Karya saya juga pernah dibawa ke luar negeri, seperti Amerika dan Polandia,” terangnya yang pernah ikut pameran di Riyadh Arab Saudi.

Melalui Batik Rajah, Kaji yang juga masih aktif melukis ini ingin mengangkat potensi Kota Magelang dan ditunjukkan ke dunia.

Ia pun yakin, batik dari Magelang ini akan makin dikenal oleh dunia.

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pandemi Melandai, Komoditas Kopi Kembali Bersemi

Jumat, 28 Januari 2022 | 22:15 WIB
X