Duh! 90 Persen UMKM Terdampak Covid-19, Performa Tidak Sebaik Sebelumnya

- Jumat, 29 Januari 2021 | 10:00 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Sektor UMKM merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Kementerian Koperasi dan UKM mengatakan, 90 persen UMKM kegiatan usahanya terganggu akibat pandemi. Aturan seperti pembatasan interaksi sosial, lockdown, hingga penutupan tempat wisata membuat UMKM kesulitan menemukan pasar yang membuat UMKM merugi hingga gulung tikar.

Data dari Kementerian Keuangan menyebutkan, UMKM menyumbang 61,1 persen terhadap PDB dan 97 persen terdapat penyerapan tenaga kerja. Lesunya perekonomian mikro dan menengah ini turut berpengaruh pada perekonomian nasional secara keseluruhan.

“Di krisis tahun 1998 dan 2008, UMKM masih menjadi penguat perekonomian nasional. Di tahun 2020, pandemi mempengaruhi segala sektor, bahkan secara global. Aktivitas ekonomi juga menjadi terbatas, (karena hal ini) performa UMKM menjadi tidak sebaik sebelumnya,” ungkap Ludiro, S.E, MM, Direktur Sistem Manajemen Investasi, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan RI.

Dalam acara Niagahoster Media Meet-Up, perusahaan web hosting Niagahoster dan Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharan membagikan optimisme dan keyakinan akan pulihnya kondisi perekonomian UMKM di tahun 2021. Inisiatif pemerintah seperti program vaksinasi, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dan digitalisasi merupakan dorongan agar UMKM dapat bangkit di tahun ini.

“Perlu adanya sinergi antar instansi. Baik antar kementerian, pemerintah dengan daerah, maupun pemerintah dengan swasta. Hal ini supaya pelaksanaan program tepat sasaran dan tepat guna, dan betul-betul memberi manfaat bagi pemulihan UMKM pasca pandemi,” ungkap Ade Syah Lubis, CEO Niagahoster.

Baca juga: Percepat Pemulihan Ekonomi, Pemerintah Lanjutkan Dukungan Kebijakan Pemberdayaan UMKM

Ludiro menyampaikan, UMKM Indonesia mengalami beberapa permasalahan klasik dalam mengembangkan bisnis. Antara lain, sulit menembus pasar global, belum produktif, hingga kekurangan layanan finansial. Pandemi membuat kondisi UMKM semakin tidak menentu dengan berkurangnya permintaan dari pasar, yang membuat UMKM kesulitan menyeimbangkan proses produksi dan pemasaran.

“Sebelum pandemi pun pemerintah sudah melakukan kebijakan seperti; mempercepat perizinan, memberikan bunga pinjaman ringan, pendampingan usaha, hingga penurunan tarif pajak. Di masa pandemi kami mengakselerasi program-program tersebut,” ucap Ludiro, S.E, MM.

Pada tahun 2020, pemerintah merealisasikan program Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) yang mencakup restorasi di sektor kesehatan, perlindungan sosial, UMKM, dan lainnya. Hingga saat ini, realisasi sementara kluster dukungan untuk UMKM sudah mencapai 96,6 persen dari pagu anggaran atau sebesar Rp 112,4 Triliun.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

X