Pengembang Soloraya Pilih Jual Perumahan Nonsubsidi, Apa Alasannya?

- Rabu, 27 Januari 2021 | 10:24 WIB
Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

SOLO, suaamerdeka.com - Masih banyak pengembang di Soloraya lebih memilih menjual perumahan nonsubsidi ketimbang subsidi. Rumitnya prosedur di perbankan menjadi salah satu alasan mereka. Padahal rumah yang dijual seukuran rumah subsidi, yakni 60 M2, hanya saja konstruksi bangunan masih lebih baik. Lokasinya tidak dipinggir jalan utama. Selain itu, rumah subsidi tersebut ada yang luas, besar, dan tinggi harganya.

"Semula saya menjual rumah subsidi selain nonsubsidi, karena belakangan prosedurnya sulit dan nyrempet pada hal-hal lain, akhirnya hanya menjual rumah nonsubsidi," kata Yoyok, pengembang asal Karanganyar, kemarin.

Hal senada dikatakan pengembang lainnya, Sundarno dan Budi. Semula kedua pengembang itu ingin menjual rumah subsidi. "Tapi setelah tahu prosesnya njlimet, saya hanya menjual rumah nonsubsidi, bahkan saya menjual langsung tanah kapling, asal hitung-hitungannya tidak rugi," kata Sundarno.

Lebih lanjut Yoyok mengatakan, proses jual beli rumah nonsubsidi memudahkan kedua belah pihak. Baik pengembang maupun konsumen, karena prosedur dan persyaratan tidak berbelit-belit. Asal kedua belah pihak cocok dan sepakat dengan harga, kata dia, transaksi bisa dilakukan. Apalagi kalau pembelian tunai, makin mudah dan cepat.

"Bagaimana pun pengembang butuh cashflow cepat, untuk memutar bisnis, untuk membeli ini itu, membayar ini itu, termasuk membayar angsuran ke bank. Penjualan rumah nonsubsidi cukup membantu pengembang, karena cepat mendapatkan uang segar. Berbeda dengan rumah subsidi, masih harus menunggu lama pencairan subsidi, itu pun kalau akhadnya disetujui bank," tambahnya.

Baca juga: REI Soloraya Tanggapi Positif Kenaikan Pembiayaan Bantuan Perumahan Subsidi

Jika pemerintah ingin membantu masyarakat berpenghasilan rendah membeli rumah bersubsidi, kata dia, tidak cukup menambah alokasi dana bantuan pembiayaan perumahan. Baik Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), atau Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Menurut dia, pemerintah harus membenahi prosedur kredit pemilikan rumah (KPR). "Persyaratan-persyaratan yang selama ini njlimet sebaiknya disederhanakan saja, baik bagi pengembang maupun calon pembeli," tandasnya.

Sunaryo, pengembang lainnya, mengatakan, tak banyak developer berjualan rumah subsidi. Sewaktu awal terjun di dunia properti hampir 20 tahun lalu, kata dia, hanya ada tiga pengembang yang berjualan rumah subsidi. Sekarang sudah bertambah, tapi jumlahnya masih tetap saja kalah dibanding yang berjualan rumah nonsubsidi.  "Bagi pengembang, berjualan rumah subsidi atau nonsubsidi itu pilihan, masing-masing punya alasan," kata Sunaryo yang dikenal sebagai raja rumah subsidi.

Sebelumnya diberitakan, realisasi penyaluran dana bantuan pembiayaan perumahan FLPP di 2020 tidak sesuai target. Namun di 2021, pemerintah menambah alokasi dana bantuan pembiayaan perumahan, tidak hanya FLPP, tapi juga SBUM dan BP2BT. Tujuannya, untuk mendukung program percepatan pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi, di samping untuk mendukung program sejuta rumah yang dicanangkan Presiden Jokowi.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

Pandemi Melandai, Komoditas Kopi Kembali Bersemi

Jumat, 28 Januari 2022 | 22:15 WIB
X