Ekonomi Syariah Nasional, Ini 4 Fokus Pengembangannya

- Rabu, 20 Januari 2021 | 10:24 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

SOLO, suaramerdeka.com - Ventje Rahardjo, Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah menuturkan, dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024, ada empat fokus pengembangan ekonomi syariah nasional. Yakni pengembangan industri halal, keuangan, dana sosial, serta perluasan kegiatan usaha syariah.

"Pada level menengah harus mengambil zakat yang kuat untuk masyarakat keluar dari garis kemiskinan. Pemanfaatan wakaf memiliki potensi besar, berbagai upaya muncul untuk pengembangan wakaf," ujarnya, dalam Webinar Sharia Economic Outlook Ekonomi Syariah Indonesia 2021, Selasa (19/1).

Ketua Project Management Office (PMO) Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN, Hery Gunardi mengatakan, integrasi tiga bank syariah milik BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia adalah wujud inisiatif pemerintah membangkitkan industri syariah, yang selama ini dianggap sebagai raksasa tidur. Dengan nilai aset yang mencapai sekitar Rp 240 triliun dan melayani lebih dari 14,9 juta nasabah, BSI akan menjawab berbagai tantangan pengembangan ekonomi dan industri keuangan syariah.

“Infrastruktur ini bisa menjawab tantangan yang dihadapi perbankan syariah. Kita harus bisa memperkuat daya saing perbankan syariah di industri. Dari sisi produk, kita mesti punya produk lebih variatif dengan kombinasi kapabilitas tiga bank yang membawa kelebihan masing-masing. Kami juga akan mendorong capability technology system karena kami sadar Bank Syariah Indonesia harus punya kemampuan digital lebih baik dari sekarang," ujar Hery.

Baca juga: Ekonomi Syariah, Alternatif Pendorong Pemulihan Ekonomi Nasional Pasca Pandemi

Menurut Hery, Bank Syariah Indonesia diprediksi mampu mewujudkan visi menjadi pemain global dan pemain utama di industri perbankan syariah dunia dalam kurun 3-4 tahun mendatang. Visi itu bisa terwujud dengan pelayanan Bank Syariah Indonesia yang akan fokus di segmen UMKM, ritel, konsumer, yang dipadu kemampuan mengelola nasabah wholesale yang baik.

Selain memiliki fundamental yang kuat dengan total aset hingga Rp 239 triliun dan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun, Bank Syariah Indonesia juga memiliki beragam produk untuk ditawarkan kepada masyarakat, baik di segmen ritel, UMKM, serta korporasi. Didukung oleh kemampuan teknologi terbaik, Bank Syariah Indonesia berkomitmen menyediakan pengalaman perbankan digital terbaik bagi pelanggan.

Heru Kristiyana, Fasilitator Ekosistem Ekonomi Syariah Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK berharap, ke depan Bank Syariah Indonesia bisa memfasilitasi berbagai kebutuhan pelaku industri di ekosistem ekonomi syariah. Selain itu, bank hasil merger itu diharap membantu peningkatan share asset perbankan syariah yang kini berada di angka 6,51 persen dibanding total aset perbankan nasional.

"Kami lihat tantangan dalam jangka pendek adalah bagaimana perbankan kita bisa melakukan pemulihan sektor rill dan konsolidasi bisnis mengatasi pandemi. Kami juga akan address supaya nanti perbankan mempunyai daya tahan untuk menyerap cadangan sebagai dampak dari restrukturisasi kredit yang masih berlangsung. Selain itu, perbankan digital tidak boleh diabaikan karena nasabah maunya transaksi perbankan secara digital, ujar Heru.

Halaman:

Editor: Andika

Tags

Terkini

BSN Bikin Etalase Digital Produk UKM Ber-SNI

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:25 WIB

Program BI Religi Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:12 WIB
X