Peredaran Rokok Ilegal Ancam Kelangsungan Usaha IHT, Daya Beli Konsumen Turun

- Senin, 25 Oktober 2021 | 09:12 WIB
Rokok. (foto ilustrasi: pikiran rakyat) (Rep)
Rokok. (foto ilustrasi: pikiran rakyat) (Rep)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Ketua Umum Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Henry Najoan mengatakan, selain kebijakan cukai eksesif 23 persen di tahun 2020 dan 2021, peredaran rokok ilegal turut mengancam kelangsungan usaha Industri Hasil Tembakau (IHT).

Hal ini bisa dilihat dari data jumlah pabrik rokok ilegal dari tahun ke tahun menurun drastis.

Pada tahun 2007, papar Henry, terdapat 4.793 parik rokok legal di Indonesia turun hingga tersisa 487 pabrik di 2017.

Menurut Henry, maraknya rokok ilegal sejak 2020 karena daya beli konsumen turun, tingginya harga jual rokok legal dan kurangnya efektif penindakan rokok ilegal di lapangan.

Baca Juga: Tahan Kontraksi, Konsumsi Pemerintah Berperan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Untuk itu, dia mengusulkan kepada pemerintah agar dilakukan strategi penindakan rokok ilegal secara extra ordinary.

Dia juga meminta tarif IHT pada 2022 tidak naik atau tetap sebesar tarif yang berlaku di tahun ini.

"Kondisi IHT saat ini sangat terhimpit dan kritis, butuh relaksasi minimum tiga tahun bagi usaha IHT untuk pemulihan," tuturnya.

Baca Juga: Tiga Rapat Ini Jadi Penentu Lahirnya Sumpah Pemuda

Selain itu, kata Henry, rencana pemerintah merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 sebaiknya tidak dilakukan.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hyundai Optimistis Creta Bisa Merajai Segmen SUV

Rabu, 1 Desember 2021 | 19:52 WIB
X