Dolar Pangkas Kerugian Usai Bank Sentral AS Diklaim Harus Mulai Kurangi Pembelian Aset

- Sabtu, 23 Oktober 2021 | 10:36 WIB
Dollar. (Pixabay)
Dollar. (Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Usai Bank Sentral AS diklaim harus segera mulai mengurangi pembelian aset, dolar memangkas kerugiannya terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB).

Ada penurunan indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya sebesar 0,10 persen menjadi 93,64, dan jatuh dari tertinggi satu tahun di 94,56 minggu lalu.

Disebutkan, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bank sentral AS seharusnya belum menaikkan suku bunga.

Lapangan kerja masih terlalu rendah dan inflasi yang tinggi, kata Powell kemungkinan akan berkurang tahun depan karena tekanan dari pandemi Covid-19 memudar, bahkan ketika banyak pelaku pasar khawatir bahwa kenaikan tekanan harga akan bertahan lebih lama daripada yang diyakini para pembuat kebijakan.

Baca Juga: Ikuti Perkembangan Jaman, Vici Gunakan Bahasa Secara Bijak

Investor telah mengambil keuntungan sejak indeks dolar mencapai level tertinggi satu tahun pekan lalu, ketika kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama membuat investor mengedepankan ekspektasi kapan Fed pertama kali akan menaikkan suku bunga hingga pertengahan 2022.

"Ada sedikit pelonggaran posisi, kami jelas telah melihat dolar menguat sejak (pertemuan) Fed September. Itu juga sesuai dengan kecenderungan musiman dolar melemah hingga akhir bulan," kata Mazen Issa, ahli strategi valuta asing senior di TD Securities di New York.

Reli dolar juga telah memudar karena investor membangun ekspektasi untuk kenaikan suku bunga lebih cepat dalam mata uang lainnya.

Namun, Issa memperkirakan dolar akan mendapatkan kembali traksi ketika bank-bank sentral global mendorong kembali kenaikan suku bunga yang agresif, sementara The Fed kemungkinan akan tetap relatif hawkish dan bergerak maju dengan pengurangan program pembelian obligasi.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Seiring Sentimen Bullish soal Rendahnya Pasokan

"Begitu kita mendapat dorongan dari bank-bank sentral lain dan The Fed berkomitmen untuk melakukan tapering, kita akan melihat penurunan dolar benar-benar dangkal," kata Issa.

Untuk mata uang lain, dolar Aussie, yang merupakan proksi untuk selera risiko, menyerahkan kenaikan sebelumnya dan terakhir melemah 0,05 persen pada 0,7462 dolar AS.

Mata uang safe-haven yen naik, meskipun tetap menjadi pemain terlemah, setelah turun hampir 10 persen tahun ini.

Kemudian, dolar terakhir turun 0,50 persen terhadap mata uang Jepang di 113,42 yen.

Bitcoin turun 2,98 persen menjadi 60.367 dolar AS, kemudian mencapai rekor tertinggi 67.017 dolar AS pada Rabu 20 Oktober, setelah ETF (exchange traded fund) Bitcoin berjangka pertama AS mulai diperdagangkan.***

Halaman:
1
2

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Akhir Tahun 2021 di Jateng Alami Inflasi 0,64 Persen

Selasa, 4 Januari 2022 | 14:38 WIB
X