Ini Kendaraan yang dapat Menggunakan Solar Subsidi Pertamina

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:35 WIB
Sejumlah pelanggan kecelik saat akan membeli BBM solar bersubsidi di salah satu SPBU di Temanggung, kemarin. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Sejumlah pelanggan kecelik saat akan membeli BBM solar bersubsidi di salah satu SPBU di Temanggung, kemarin. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)


SEMARANG, suaramerdeka.com - Sopir truk angkutan barang di Jawa Tengah mengeluhkan kelangkaan BBM subsidi jenis Biosolar. Kalaupun ada, SPBU membatasi pengisian Biosolar.

Wakil Ketua Bidang Angkutan Distribusi & Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia ( Aptrindo ) Jateng dan DIY, Agus Pratiknyo mengatakan sudah 2 minggu ini kelangkaan Biosolar terjadi hampir di seluruh pulau Sumatera serta di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dampaknya telah terjadi antrian panjang truk-truk yang akan mengisi Biosolar selama berjam-jam di Jawa bahkan sampai berhari-hari di Sumatera sehingga membuat arus distribusi logistik di berbagai daerah terhambat.

Baca Juga: Tingkatkan Minat Baca Mahasiswa, Perpustakaan UPGRIS Gelar Bedah Buku

"Selain harus mengantre selama berjam-jam, pembelian Biosolar pun dibatasi berbeda-beda di tiap SPBU. Untuk truk-truk antar kota antar propinsi ( AKAP ) hal seperti ini tentu saja sangat menyulitkan, karena terpaksa harus sering-sering mengantre dan membuang waktu dalam perjalanannya," katanya, Kamis, 21 Oktober 2021.

Menanggapi hal itu, Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina Persero, Brasto Galih Nugroho menjelaskan sesuai dengan regulasi yang ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak, untuk sektor transportasi darat, produk subsidi Solar dikhususkan untuk masyarakat dalam kaitannya dengan transportasi orang atau barang tertentu.

"Seperti plat hitam dan kuning (mobil pengangkutan hasil kegiatan perkebunan dan pertambangan dengan jumlah roda lebih dari enam), mobil ambulance, mobil pengangkut jenazah, mobil pemadam kebakaran, mobil pengangkut sampah dan kereta api umum penumpang dan barang berdasarkan kuota yang ditetapkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH MIgas)," jelasnya, Kamis, 21 Oktober 2021.

Baca Juga: Kantongi Komitmen Pusat, Jabar Pede Abis Bisa Permak Kawasan Selatan

Sementara itu, untuk sektor transportasi laut, Solar subsidi digunakan untuk transportasi air yang menggunakan motor tempel dengan verifikasi dan rekomendasi instansi terkait, sarana transportasi laut berupa angkutan umum atau penumpang, sungai, danau, penyeberangan dan kapal pelayaran rakyat/perintis berdasarkan kuota yang ditetapkan BPH Migas.

Sementara itu terkait pembelian Solar subsidi untuk konsumen kendaraan bermotor di sektor transportasi darat diatur dalam Surat Keputusan Kepala BPH Migas No. 04/P3JBT/BPH Migas/KOM/2020 tentang Pengendalian Penyaluran Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu oleh Badan Usaha Pelaksana Penugasan Pada Konsumen Pengguna Transportasi Kendaraan Bermotor untuk Angkutan Orang atau Barang.

"Dalam Surat Keputusan tersebut disebutkan bahwa kendaraan bermotor perseorangan roda empat paling banyak 60 liter per hari perkendaraan, kendaraan bermotor umum angkutan orang atau barang roda 4 paling banyak 80 liter per hari per kendaraan dan kendaraan bermotor umum angkutan orang atau barang roda 6 atau lebih paling banyak 200 liter per hari perkendaraan," tutur Brasto.

Baca Juga: DLH Kota Semarang Tetapkan 15 Sekolah Adiwiyata 2021

Brasto menambahkan Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk menyalurkan Solar Subsidi dengan tepat sasaran sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) 191/2014.

Menurutnya, jika lembaga penyalur atau SPBU terindikasi dan terbukti terjadi penyelewengan Pertamina tidak segan memberikan sanksi tegas.

“Hingga Oktober, terdapat 26 SPBU di Jawa Tengah dan DIY yang telah diberikan sanksi berupa penghentian suplai atau penutupan sementara, maupun sanksi seperti penggantian selisih harga jual Solar Subsidi akibat melakukan penyaluran yang tidak sesuai dengan regulasi yang berlaku," ungkapnya.

Serangkaian upaya telah dijalankan oleh Pertamina dalam rangka mendorong penggunan BBM subsidi yang tepat sasaran, salah satunya adalah mendorong masyarakat maupun konsumen untuk beralih menggunakan produk bekualitas yang nonsubsidi yaitu Dexlite CN 51 dan Pertamina Dex CN 53.

 

Halaman:
1
2

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X