Jumlah Temuan Penderita TBC Menurun saat Pandemi Covid-19

Biro Muria
- Selasa, 27 Oktober 2020 | 14:43 WIB

BLORA- Jumlah temuan penderita baru penyakit tuberculosis (TBC) di Blora saat pandemi Covid-19 mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Dinas Kesehatan tahun ini menemukan jumlah penderita TBC sebanyak 727 orang. Sedangkan tahun lalu sebanyak 1.377 orang.


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora Henny Indriyanti melalui Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Pengendalian Penyakit Sutik mengemukakan, pihaknya setiap tahun mengerahkan petugas untuk melakukan pencarian penderita baru TBC. Namun, tugas tersebut tidak akan berhasil dengan baik jika tidak didukung kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Apalagi jika penyakit yang dideritanya menunjukan ciri-ciri penyakit TBC. ‘’Dalam konteks ini semakin banyak ditemukan itu semakin baik. Sehingga bisa langsung dilakukan pengobatan dan tidak menular kemana-mana,’’ ujarnya Selasa (27/10).

Untuk mencari penderita baru TBC ini, menurut Sutik, pihaknya telah menugaskan seluruh tenaga kesehatan di puskesmas termasuk para bidan di desa-desa. Selain menerima data penderita baru TBC, para petugas tersebut turun langsung ke desa untuk mencari penderita TBC. Selain itu, selama ini warga juga aktif melakukan pelaporan jika mengetahui ada penderita yang diduga mengidap TBC. Hanya saja, kata Sutik, saat pandemi Covid-19, konsentrasi warga lebih banyak kepada Covid-19. ‘’Untuk penderita sendiri, jangan malu-malu melapor kepada kami. Batuk lebih dari dua pekan, segera periksa diri ke dokter. Justru kalau segera melapor, kami bisa langsung memberikan penanganan kepada yang bersangkutan. Kami menyediakan obat TBC di puskesmas,’’ kata Sutik.

Pengobatan itu tanpa dipungut biaya atau gratis. Namun, pengobatan harus dilakukan secara teratur selama enam bulan. Justru jika pengobatan terputus atau tidak tuntas maka akan sangat membahayakan penderita TBC. Pasalnya sang penderita dimungkinkan terserang TB MDR (Multidrug Resistant) yang akan sulit disembuhkan.

Sutik mengemukakan, jika pengobatan secara teratur maka kesembuhan dari pengobatan ini cukup tinggi. Yakni di atas 85 persen. ‘’Jika memang sakit, berobatlah secara teratur maka kemungkinan sembuh menjadi lebih besar. Bukan malah ditutup-tutupi,’’ tandasnya.
TBC termasuk salah satu penyakit menular dan berbahaya. Namun baru sedikit penderita penyakit batuk-batuk ini yang ditemukan. Masyarakat juga belum tahu banyak penyakit yang penularannya antara lain melalui ludah dan udara tersebut. (Abdul Muiz)

Editor: Biro Muria

Terkini

KPR untuk Milenial, Kebutuhan atau Investasi?

Sabtu, 10 Desember 2022 | 12:33 WIB
X