Relaksasi Impor Hortikultura Pernah Dilakukan di Awal Pandemi dengan Pembebasan SPI

- Sabtu, 10 Oktober 2020 | 09:00 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Relaksasi impor komoditas hortikultura sebenarnya sudah pernah dilakukan di awal pandemi Covid-19 di Indonesia lewat pembebasan Surat Persetujuan Impor (SPI) hingga 31 Mei 2020. Dengan meniadakan SPI, proses impor bawang putih dan bawang bombay diharapkan bisa berjalan lebih cepat dan pasokannya bisa memasok kebutuhan dan menstabilkan harga di pasar Indonesia.

Pembebasan SPI berarti importir juga terbebas dari kewajiban mengurus Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Terkait proses pengajuan impor, importir biasanya harus mengurus RIPH kepada Kementerian Pertanian (Kementan) yang dilanjutkan dengan pengajuan SPI kepada Kemendag. Importir juga dibebaskan dari persyaratan laporan surveyor (LS) atas kedua komoditas tersebut.

“Pembebasan RIPH, SPI dan LS merupakan terobosan yang responsif dalam penyederhanaan proses pengajuan impor produk hortikultura. Komoditas yang diimpor diharapkan mampu berperan dalam menstabilkan harga di pasar. Penyederhanaan proses impor ini idealnya bisa diteruskan untuk memastikan ketersediaannya di pasar,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menuturkan, .

Lebih lanjut, Galuh mengatakan semua pelaku usaha hortikultura menengah dan besar wajib memberikan kesempatan pemagangan dan transfer teknologi. Sebelumnya, hanya penanam modal asing saja yang wajib memberikan kesempatan ini. Hal ini diharapkan dapat mendorong pemerataan alih teknologi bagi pelaku usaha hortikultura mikro dan kecil, sehingga produktivitas hortikultura dapat meningkat.

Baca juga: Relaksasi Impor Hortikultura di UU Cipta Kerja Diharap Bisa Stabilkan Harga dan Pasokan

Konsumsi domestik produk hortikultura di indonesia cukup tinggi dan selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, Data BPS 2019 menunjukkan konsumsi bawang putih oleh rumah tangga di Indonesia di tahun 2019 mencapai 484 ribu ton dengan Garlic Household Participation Rate pada tahun 2019 mencapai 90,75%. Sementara itu ekspor bawang putih untuk tahun 2019 tumbuh 71,76% dibandingkan dengan tahun 2018.

Angka ini termasuk sangat pesat dibandingkan dengan pertumbuhan impor di angka 7,76% berdasarkan data BPS. Akan tetapi, kalau dilihat dari jumlah, mayoritas kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi lewat impor.

“Walaupun produktivitas meningkat, impor produk hortikultura masih dibutuhkan karena permintaan domestik yang tinggi. Hal ini salah satunya disebabkan oleh semakin berkurangnya lahan dan pesatnya penambahan jumlah penduduk. Namun, proses impor produk hortikultura seringkali menemui tantangan dari sisi restriksi dan kontrol impor oleh pemerintah pusat,” tandasnya.

Editor: Andika

Tags

Terkini

X