Berani Investasi di Pasar Modal/Keuangan?

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 18:13 WIB
Pembicara dan peserta Seminar ''Investasi Kekinian'' IMPRESS FEB UKSW Salatiga. (SM/Surya Yuli P)
Pembicara dan peserta Seminar ''Investasi Kekinian'' IMPRESS FEB UKSW Salatiga. (SM/Surya Yuli P)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Mengalami kegagalan atau kerugian dalam berinventasi di pasar keuangan atau pasar modal merupakan hal yang biasa. Namun kegagalan itu menjadi pelajaran berharga, agar tidak terulang kembali dan justru meraih keuntungan.

Untuk itu perlu kemampuan berpikir logis, mampu memprediksi risiko, memprediksi keuntungan, memahami situasi perekonomian dan kondisi perusahaan yang terlibat di pasar modal, serta keterampilan pasar modal lainnya, agar terhindar dari risiko kerugian.

Topik tersebut menjadi perbincangan menarik dalam Seminar ''Investasi Kekinian'' yang digelar Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Siap Bersinergi (IMPRESS) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UKSW Salatiga, Rabu (13/10) sore.

Baca Juga: Teliti Respons Perundungan, Argo Raih Doktor

Kegiatan ''Rabu Berilmu Series #2'' tersebut menghadirkan dua mahasiswa magister manajemen pascasarjana FEB UKSW, sekaligus pelaku bisnis investasi, yakni Yahya Rechtiawan Djari yang membawakan materi Risk and Return Investasi di Crypto dan Zuwan Nisfu Nahar yang membawakan materi Four-dimensional Analysis to Trading or Investing.

Seminar dimoderatori Ketua Program Studi MM FEB UKSW, Dr Maria Rio Rita SE MSi.

Yahya memaparkan salah satu investasi kekinian yang banyak diminati dari berbagai kalangan, yakni cryptocurrency, yang sebagian pebisnis mengenalnya dengan Bitcoin.

Cryptocurrency merupakan mata uang digital sebagai alat pembayaran dan merupakan sarana investasi, serta lainnya. Lepas dari kontraversi terkait keberadaan Bitcoin, Yahya menjelaskan bila dia sudah beberapa tahun berinvestasi cryptocurrency.

Baca Juga: Kanker Payudara Mengancam Perempuan Usia Muda, Perlu Upaya Preventif yang Masif Lewat Edukasi

Awalnya sempat rugi karena kesalahan prediksi, namun bisa berbalik dan menerima keuntungan dari investasi tersebut.

Hal yang sama diungkapkan oleh Zuwan Nisfu Nahar. Zuwan memaparkan terjun di sejumlah investasi pasar modal atau pasar keuangan lainnya. Ketika awal berinvestasi, dia mengaku belum memiliki kemampuan menganalisis berbagai kondisi.

''Awalnya saya hanya ikutan membeli saham tertentu, ketika harga saham naik. Tetapi itu salah dan saya mulai belajar berbagai hal yang berhubungan dengan pasar keuangan dan pasar modal. Bahkan sudah memperdiksi dengan baik saja, tetapi karena faktor psikologi, karena ketidakyakinan, tetap bisa membuat gagal,'' kata Zuwan.

Zuwan menyebut ada lima elemen penting dalam menganalisis sebelum memutuskan investasi di pasar modal/keuangan, yakni what (apa), why (mengapa), where (di mana), when (kapan).

Keempat elemen dasar yang dipadukan dengan teori-teori perhitungan ekonomi di pasar keuangan/modal itu, sangat menentukan dalam mengambil keputusan investasi.

Ditambah dengan satu elemen lagi yakni psychology, di mana salah satu maksudnya adalah keyakinan sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: Pertamina Lubricants Dekatkan Diri dengan Masyarakat

''Sudah melakukan prediksi dan perhitungan, serta analisis yang benar saja, bisa terpengaruh oleh faktor psikologi ini. Akhirnya tidak mengambil keputusan berdasar prediksi dan perhitungan serta analisis yang benar tersebut.

Justru memilih mengambil keputusan tidak berdasarkan kebenaran tersebut. Jadi faktor psikologi ini sangat penting juga setelah berbagai analisis lain dilakukan,'' jelas Zuwan.

Baik Yahya dan Zuwan mengaku masih belajar banyak dan menimba pengalaman dalam berinvestasi.

Terpenting bagi mereka adalah mau mencoba dan terjun langsung investasi pasar modal atau pasar keuangan. Dengan pengalaman di masa muda tersebut, keduanya berharap kelak bisa menjadi pialang andal.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Program BI Religi Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:12 WIB
X