Harga Minyak Jatuh di Tengah Kekhawatiran Pertumbuhan Permintaan yang Melambat

- Kamis, 14 Oktober 2021 | 08:24 WIB
Ilustrasi kilang minyak (Terry McGraw from Pixabay)
Ilustrasi kilang minyak (Terry McGraw from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan permintaan yang melambat, harga minyak jatuh pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB).

Kekhawatiran permintaan minyak menah yang memakan keuntungan baru-baru ini, telah membawa harga ke tertinggi multi-tahun dalam beberapa sesi terakhir.

Untuk pengiriman Desember, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember terpangkas 24 sen atau 0,3 persen, menjadi menetap di 83,18 dolar AS per barel.

Sementara itu, untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS tergerus 20 sen atau 0,3 persen, menjadi ditutup di 80,44 dolar AS per barel.

Baca Juga: Pengurus Kadin Karanganyar Langsung Kerja, Akan Gelar Bussines Visit dan Bussines Tour

Beberapa pedagang dicatat para analis kemungkinan mengambil keuntungan dalam minyak mentah AS setelah kontrak berjangka WTI mencapai tertinggi sejak Oktober 2014 selama tiga sesi terakhir.

Harga berada di bawah tekanan awal ketika China, importir minyak mentah terbesar dunia, merilis data yang menunjukkan impor September turun 15 persen dari tahun sebelumnya.

Pasar sedang menunggu data persediaan minyak AS yang diperkirakan para analis akan menunjukkan peningkatan 0,7 juta barel dalam stok minyak mentahnya.

Data dari American Petroleum Institute (API), sebuah kelompok industri, dijadwalkan pada pukul 16.30 waktu setempat (20.30 GMT) pada Rabu 13 Oktober 2021 dan dari Badan Informasi Energi AS pada Kamis, 14 Oktober 2021.

Baca Juga: Baim Wong Memarahi Orangtua, Dedi Mulyadi Tidak Merasa Aneh Jika Persoalan Semakin Panjang

Data tersebut tertunda sehari setelah liburan Hari Columbus pada Senin, 11 Oktober 2021.

Kekurangan batu bara dan gas alam di China, Eropa, dan India telah mendorong harga bahan bakar yang digunakan untuk pembangkit listrik lebih tinggi.

Produk minyak digunakan sebagai pengganti.

Komisi Eropa menguraikan langkah-langkah yang dapat digunakan Uni Eropa untuk memerangi lonjakan harga energi, dan mengatakan akan menjajaki pembelian gas bersama di antara negara-negara.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2021 sambil mempertahankan prospek tahun 2022.

Tetapi OPEC mengatakan lonjakan harga gas alam dapat meningkatkan permintaan produk minyak karena pengguna akhir beralih.

"Laporan bulanan OPEC hari ini tampaknya menawarkan sesuatu untuk bullish dan bearish dengan badan itu secara tak terduga mengurangi perkiraan permintaan minyak global mereka ... untuk tahun ini sambil menyesuaikan perkiraan pertumbuhan pasokan non-OPEC mereka turun," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Bensin dan diesel berjangka AS ditutup pada level tertinggi sejak Oktober 2014 pada Rabu 13 Oktober 2021.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X