Permintaan Global Pulih, Harga Minyak Melambung ke Level Tertinggi

- Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:12 WIB
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Pulihnya permintaan global membuat harga minyak melambung ke level tertinggi dalam beberapa tahun pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB)

Untuk pengiriman Desember, minyak mentah berjangka Brent terangkat 1,26 dolar AS atau 1,5 persen, menjadi menetap di 83,65 dolar AS per barel.

Brent mencapai puncak sesinya di 84,60 dolar AS, merupakan posisi tertinggi sejak Oktober 2018.

Sementara untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS juga meningkat 1,17 dolar AS atau 1,5 persen, menjadi ditutup di 80,52 dolar AS per barel, setelah menyentuh level tertinggi sejak akhir 2014 di 82,18 dolar AS.

Baca Juga: Begini Cara Coldplay Mempromosikan Album Baru

Permintaan global yang pulih telah berkontribusi pada kekurangan listrik dan gas di negara-negara ekonomi utama seperti China.

Laju pemulihan ekonomi dari pandemi telah meningkatkan permintaan energi pada saat produksi minyak melambat.

Pengurangan dari negara-negara produsen selama pandemi, fokus pada dividen oleh perusahaan minyak dan tekanan pada pemerintah untuk beralih ke energi yang lebih bersih.

Seorang pejabat pemerintah AS mengatakan, Gedung Putih mendukung seruannya kepada negara-negara penghasil minyak untuk berbuat lebih banyak dan mereka memantau dengan cermat biaya minyak dan bensin.

Baca Juga: Penanganan Covid-19 Kabupaten Tegal, 9 Rumah Sakit Rujukan Nol Kasus Pasien Positif

"Kekurangan di pasar energi masih menjadi penarik," kata Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, dalam sebuah catatan pada Senin 11 Oktober 2021.

OPEC+ juga telah menahan diri untuk tidak meningkatkan pasokan bahkan ketika harga telah naik.

Pada Juli, kelompok tersebut setuju untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari guna memulihkan 5,8 juta barel per hari dalam pembatasan pasokan yang tersisa dari kesepakatan 2020 untuk memangkas produksi setelah wabah virus corona.

Harga listrik telah melonjak ke rekor tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, didorong oleh kekurangan energi yang meluas di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Melonjaknya harga gas alam mendorong pembangkit listrik beralih ke minyak.

"Semuanya sangat terfokus pada kurangnya pasokan yang kembali pada saat permintaan tampak meningkat kembali," kata Matt Smith, analis minyak utama di Kpler.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hyundai Optimistis Creta Bisa Merajai Segmen SUV

Rabu, 1 Desember 2021 | 19:52 WIB
X