Tempat Cuci Tangan Injak dari Kayu, Inovasi Mahasiswa UNS

Andika
- Rabu, 15 Juli 2020 | 07:12 WIB
SERAH TERIMA: Mahasiswa UNS Nina Sofiatun saat serah terima tempat cuci tangan injak dari kayu kepada tokoh setempat. (suaramerdeka.com / dok)
SERAH TERIMA: Mahasiswa UNS Nina Sofiatun saat serah terima tempat cuci tangan injak dari kayu kepada tokoh setempat. (suaramerdeka.com / dok)

SEJAK  ditetapkannya darurat Covid-19 masyarakat diminta untuk melakukan kebiasaan baru seperti beraktivitas di rumah, jaga jarak dan memakai masker. Kebiasaan lain yang dianjurkan adalah mencuci tangan dengan sabun. Namun, cuci tangan pun masih menimbulkan kekhawatiran karena harus menyentuh keran dan memencet sabun yang tentu digunakan bersama-sama.

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), Nina Sofiatun (21) asal dari Jepara pun menciptakan tempat cuci tangan injak dari kayu bersama tetangganya. Nina mengungkapkan, pembuatan tempat cuci tangan injak tersebut cukup sederhana sama seperti pola membuat kursi. Hanya saja ditambah dengan dua injakan untuk sabun dan air.

"Kedua injakan berfungsi agar tangan kita tidak menyentuh keran maupun sabun saat mencuci tangan. Karena kita tidak tahu dalam benda tersebut bebas dari virus atau tidak," papar Nina, belum lama ini.

Alat dan bahan yang diperlukan, yaitu kayu bengkirai yang mudah dibeli ditukang kayu, bor, paku, ember bekas cat untuk pengisi air, kran dispenser, paku, pengait, serta benang kenur. Selain bertujuan menghindari penularan lewat benda, pembuatan alat cuci tangan injak di Desa Welahan Jepara itu bertujuanuntuk menumbuhkan kesadaran warga cuci tangan.

"Beberapa rumah kurang tanggap dalam menyediakan tempat cuci tangan di depan rumah masing-masing. Setelah adanya tempat cuci tangan dengan sistem injak ini, muncul kesadaran beberapa warga mengadakan atau memanfaatkan ember bekas untuk membuat tempat cuci tangan," sambungnya.

Dana KKN

Pembuatan tempat cuci tangan ini, sambung Nina, didanai dari uang KKN Mahasiswa sehingga hanya bisa membuat satu saja tempat cuci tangan injektur. Total biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 250.000 hingga Rp 300.000 untuk satu unit tempat cuci tangan.

Dijelaskan Nina, semenjak ditetapkannya KKN Covid UNS 2020, mahasiswa UNS telah resmi melakukan pengabdian masyarakat sebagai tri darma perguruan tinggi sejak Mei lalu. Berbeda dengan KKN biasa, KKN kali ini dilaksanakan secara individu dilingkungan domisili mahasiswa.

Lembaga pengembangan dan pengabdian masyarakat (LPPM) UNS melepas sebanyak 2.045 mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan KKN dengan berbagai tema, seperti Pendidikan, pendukung pemahaman masyarakat, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan dan lain-lain. Tema yang dipilih disesuaikan dengan permasalahan dan kebutuhan masyarakat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan covid-19.

Halaman:

Editor: Andika

Terkini

X