BRI Berdayakan Pasar Bulu Jadi Pasar Digital

- Jumat, 8 Oktober 2021 | 10:30 WIB
Regional CEO BRI Semarang Wahyu Sulistiyono bersama Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu, Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah Pribadi Santoso, dan sejumlah pejabat bersama-sama membunyikan sirine saat meluncurkan Pasar Digital Bulu Semarang. (suaramerdeka.com / Slamet Daryono)
Regional CEO BRI Semarang Wahyu Sulistiyono bersama Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu, Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah Pribadi Santoso, dan sejumlah pejabat bersama-sama membunyikan sirine saat meluncurkan Pasar Digital Bulu Semarang. (suaramerdeka.com / Slamet Daryono)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap penurunan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama aktivitas perdagangan di pasar.

Pendapatan masyarakat menurun drastis sejak adanya Covid-19 yang berpengaruh terhadap permintaan barang dan jasa, khususnya pasar tradisional.

Karena itu, sebagai upaya menggairahkan pasar dan meningkatkan pendapatan masyarakat, BRI meluncurkan Pasar Digital Bulu Semarang, Kamis, 7 Oktober 2021.

Hadir dalam peluncuran itu Regional CEO BRI Semarang Wahyu Sulistiyono, Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu, Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah Pribadi Santoso, Direktur OJK Regional 3 Jateng & DIY Indra Yuheri, Wakil Ketua UMKM dan Koperasi Kadin Jateng Hasan Abdul Rozak, Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Semarang Edi Sarwono, dan sejumlah pejabat pemerintah.

"Peluncuran Pasar Digital Bulu Semarang merupakan bukti peran aktif BRI dalam memberdayakan pelaku UMKM, khususnya para pedagang maupun pengelola pasar tradisional untuk tetap dapat produktif di masa pandemi dengan memanfaatkan platform digital BRI," kata Regional CEO BRI Semarang, Wahyu Sulistiyono.

Baca Juga: BI Jateng Ciptakan Terobosan Digital bagi Pasar Tradisional

Sebab menurut Wahyu, pasar tradisional merupakan pilar penyangga perekonomian masyarakat.

Pasar merupakan muara bagi berbagai pelaku UMKM dalam melakukan transaksi maupun sebagai tempat perputaran uang. Sehingga urat nadi perekonomian masyarakat salah satunya adalah aktivitas yang terjadi di pasar.

"Dengan berkembangnya adaptasi terhadap kebiasaan baru, penerapan PPKM, serta perubahan perilaku digital masyarakat, BRI berupaya aktif dan adaptif membantu pelaku UMKM khususnya di pasar tradisional dengan melakukan edukasi dan pendampingan. Tujuannya agar tetap dapat survive di masa pandemi dengan melakukan transformasi digital, terutama pada sisi transaksi," kata dia.

Menurut Wahyu, edukasi dan pendampingan terhadap pelaku UMKM di pasar tradisional rutin dilakukan tenaga marketing (mantri) BRI.

Baca Juga: Waspadai Masalah Jantung Usai Pulih dari Covid-19, Perhatikan Beberapa Kondisi Ini

Mereka fokus pada penanaman semangat kewirausahaan (enterpreneurship) kepada pelaku UMKM.

Hal itu dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan semangat pelaku usaha agar terus dapat mengembangkan bisnis.

Sementara fasilitas untuk mendukung pengembangan ekosistem Pasar Digital Bulu, Wahyu menyampaikan, BRI telah menghadirkan beberapa platform, diantaranya Pasar.id.

Platform ini untuk membantu pelaku UMKM di pasar tradisional dalam memasarkan dagangannya melalui pesan antar secara online, dengan mengintegrasikan semua pelaku UMKM Pasar Tradisional di aplikasi Pasar.Id, sehingga dapat langsung terhubung dengan pembeli secara daring melalui bantuan admin pasar serta jasa pengantar (memberdayakan ojek pasar).

Kemudian Stroberi Tagihan. Platform ini untuk memudahkan pengelola pasar dalam melakukan monitoring penagihan retribusi, jasa kebersihan, sewa, biaya listrik, air, serta biaya lain yang timbul dalam pengelolaan Pasar Tradisional.

Selain itu juga membantu pemerintah daerah dalam melakukan transparansi transaksi keuangan.

Platform selanjut QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Ini berfungsi untuk membantu memudahkan transaksi pembayaran melalui scan barcode di pedagang atau pengelola pasar guna mewujudkan cashless society yang cepat, aman, dan higienis karena bersifat contactless.

Ada juga Stroberi Kasir, untuk membantu pelaku UMKM di Pasar Tradisional dalam mengelola keuangan dan persediaan barang dagangan.

Menurut Wahyu, sampai saat ini, di Jawa Tengah pesisir utara yang merupakan wilayah supervisi Regional Office BRI Semarang, terdapat 367 pasar yang menggunakan Pasar.id.

Total pedagang terdaftar sebanyak 15.197, serta 13.174 transkasi dengan nominal transaksi sebesar Rp 4,2 miliar. Sementara untuk Stroberi Tagihan terdapat 37.976 transaksi dengan tagihan sebesar Rp 3,2 miliar.

Pihaknya berharap, Pasar Digital Bulu Semarang dapat menjadi contoh pengembangan pasar tradisional lain dalam mengintegrasikan seluruh pelaku UMKM dalam satu ekosistem digital.

Dengan demikian, BRI bersama-sama masyarakat dan stakeholders dapat membangun perekonomian Jawa Tengah yang berkelanjutan.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X