Kenaikan Tak Terduga Persediaan AS Membuat Harga Minyak Jatuh Hampir 2 Persen

- Kamis, 7 Oktober 2021 | 09:24 WIB
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Kenaikan tak terduga dalam persediaan AS membuat harga minyak jatuh hampir dua persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), mundur dari tertinggi multi-tahun.

Untuk pengiriman Desember, minyak mentah berjangka Brent anjlok 1,48 dolar AS atau 1,8 persen menjadi menetap di 81,08 dolar AS per barel, setelah menguat mencapai 83,47 dolar AS, tertinggi sejak Oktober 2018.

Untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November jatuh 1,50 dolar AS atau 1,9 persen menjadi ditutup di 77,43 dolar AS per barel, setelah mencapai 79,78 dolar AS, tertinggi sejak November 2014.

Departemen Energi AS menuturkan, persediaan minyak mentah AS naik 2,3 juta barel pekan lalu, terhadap ekspektasi untuk penurunan moderat 418.000 barel.

Baca Juga: Kemunduran Imbal Hasil Obligasi Membuat Harga Emas Sedikit Menguat

Selain itu Persediaan bensin juga naik, sementara persediaan distilat turun hanya sedikit.

Kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS mendorong pembeli untuk mengambil keuntungan setelah melonjak baru-baru ini.

"Kami melihat beberapa aksi ambil untung karena minyak telah naik secara signifikan," kata Gary Cunningham, direktur Tradition Energy di Stamford, Conn.

Tekanan inflasi yang dapat memperlambat pemulihan dari pandemi Covid-19 membuat harga patokan global Brent telah melonjak lebih dari 50 persen tahun ini.

Baca Juga: Ini Manfaat Lilin Aroma Terapi yang Perlu Diketahui

Gas alam telah melonjak ke rekor puncak di Eropa dan harga batu bara dari eksportir utama juga mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan terbaru dalam harga minyak mentah telah didukung oleh penolakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk meningkatkan produksi dan kekhawatiran tentang pasokan energi yang ketat secara global.

Produksi AS meningkat menjadi 11,3 juta barel per hari, pulih dari penutupan terkait badai lebih dari sebulan yang lalu menjadi rebound mendekati level tertinggi pandemi tetapi masih jauh dari rekor 13 juta barel per hari yang ditetapkan pada 2019.

Dengan perusahaan serpih membatasi pengeboran untuk berkonsentrasi pada pengembalian investor, produksi AS belum mengimbangi pengurangan oleh OPEC+.***

Halaman:
1
2

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X