Alternatif Peningkatan Produktivitas Beras Nasional, Padi Hibrida Masih Hadapi Sejumlah Tantangan

- Senin, 4 Oktober 2021 | 12:43 WIB
Ilustrasi para petani sedang memanen padi (foto / dok Kagama.co)
Ilustrasi para petani sedang memanen padi (foto / dok Kagama.co)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Penggunaan benih hibrida dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan produktivitas beras nasional.

Sayangnya benih padi hibrida belum banyak digunakan di Indonesia karena masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

“Persepsi yang sudah terbangun di benak para petani mengenai lebih menguntungkannya menanam padi inbrida daripada padi hibrida relatif sulit untuk diubah. Selain itu, produksi dan ketersediaan indukan dan benih hibrida juga masih terbilang rendah,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta.

Penelitian CIPS juga mengidentifikasi kerentanan terhadap penyakit, rasa dan tekstur nasi, tingginya harga benih, kebiasaan petani menggunakan benih sendiri dan kurangnya keterampilan petani sebagai faktor-faktor yang menyulitkan pengembangan padi hibrida.

Baca Juga: Buka Kerabmaru Fatipa Unisri, Wakil Rektor: Selamat Datang Mahasiswa Baru

Tidak tersedianya benih hibrida, memaksa banyak petani kembali menanam benih inbrida.

Survei Ubinan 2019 memperlihatkan bahwa proporsi rumah tangga petani padi sawah yang menggunakan benih hibrida hanya sekitar 9,06 persen.

Rendahnya tingkat penerimaan ini perlu diatasi dengan sosialisasi benih hibrida yang lebih masif.

“Meskipun memiliki produktivitas yang lebih tinggi, padi hibrida tidak diminati oleh petani karena sejumlah hal, seperti ongkos budidaya yang relatif lebih tinggi karena membutuhkan penanganan yang lebih intensif dan kualitas beras yang dihasilkan tidak sesuai dengan preferensi konsumen,” imbuh Aditya.

Baca Juga: Industri Film Beri Kontribusi Besar terhadap Ekonomi Negara, Pemerintah Buka kembali Bioskop

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X