Corona Membuat Pemulung Terpuruk

Nugroho
- Selasa, 19 Mei 2020 | 11:19 WIB
Untuk melengkapi berita ini saya tadi kirim foto dengan file 19epemulungdiy-sgt. Keterangan foto : Titik Suzana dari LPTP menyerahkan bantuan ke rumah pemulung yang diterima Maryono, Ketua Komunitas Pemulung Mardiko. (suaramerdeka.com/Sugiarto)
Untuk melengkapi berita ini saya tadi kirim foto dengan file 19epemulungdiy-sgt. Keterangan foto : Titik Suzana dari LPTP menyerahkan bantuan ke rumah pemulung yang diterima Maryono, Ketua Komunitas Pemulung Mardiko. (suaramerdeka.com/Sugiarto)

BANTUL, suaramerdeka.com - Ratusan pemulung yang setiap hari mengais rejeki di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, terpuruk karena penghasilan mereka turun drastis sejak adanya wabah Corona.

Biasanya penghasilan mereka seminggu Rp 250 ribu, tapi sejak Maret lalu hingga sekarang ini (Mei,red) hanya Rp 100 ribu perminggu. Itu pun mereka harus bekerja dari pagi hingga menjelang petang.

''Sejak ada virus Corona, penghasilan para pemulung turun drastis,'' kata Maryono, Ketua Komunitas Pemulung Mardiko usai menerima bantuan dari PT Danone Indonesia melalui PT Sarihusada Mahardika di TPST Piyungan, Kabupaten Bantul, kemarin.

Melihat kondisi demikian PT Danone Indonesia melalui PT Sarihusada Mahardika langsung bergerak dengan menyalurkan sejumlah bantuan untuk mereka.

Penyaluran bantuan PT Sarihusada Mahardika bekerjasama dengan Titik Suzana dari LPTP (Pendamping Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan yang selama ini menyalurkan bantuan dari perusahaan tersebut kepada sejumlah panti asuhan yang ada di Jateng dan DIY.

Titik Suzana mengatakan, kali ini pihaknya menggelontorkan bantuan 150 kilogram beras dan 250 paket yogurt, yang dialokasikan untuk komunitas pemulung Mardiko di TPST tersebut. Bantuan mulai dari ribuan Tempe, beras, dan minuman yougurt.

''Bantuan ini, untuk mengurangi beban ekonomi dan sosial saudara-saudara kita di TPST Puyungan, akibat wabah virus corona," katanya. ''Semua bantuan yang kami bagikan merupakan produksi dari beberapa UMKM  binaan PT Sarihusada Mahardika,'' imbuh dia.

Dengan begitu, para pelaku UMKM pun bisa tetap produktif di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung mereda. "Kami tetap berupaya menjaga keberlangsungan industri UMKM, terutama mereka yang memang jadi dampingan kami, baik Danone, maupun Sarihusada," ujarnya.

Sementara Maryono mengatakan, berkurangnya penghasilan yang dialami memang terbilang drastis. Dalam kondisi normal, setiap pemulung dapat mengumpulkan pundi-pundi lebih kurang Rp 250 ribu, dalam satu minggu. Tapi sekarang tidak bisa, karena jumlah sampah yang dibuang ke TPST jumlahnya juga berkurang.

Halaman:

Editor: Nugroho

Terkini

Pasar Kaliwungu jadi Percontohan Penerapan QRIS

Kamis, 25 November 2021 | 16:49 WIB

Faskes di Tanah Air Bisa Bersaing dengan Negara Maju

Kamis, 25 November 2021 | 14:25 WIB
X