Investor Mengunci Keuntungan, Harga Minyak Tergelincir di Akhir Perdagangan

- Rabu, 29 September 2021 | 09:24 WIB
Ilustrasi kilang minyak (Terry McGraw from Pixabay)
Ilustrasi kilang minyak (Terry McGraw from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Lantaran investor mengunci keuntungan, harga minyak tergelincir pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu pagi WIB) setelah naik selama lima sesi berturut-turut.

Untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka Brent melemah 44 sen atau 0,6 persen, menjadi menetap di 79,09 dolar AS per barel.

Sebelumnya, minyak Brent mencapai level tertinggi sejak Oktober 2018 di 80,75 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 16 sen atau 0,2 persen, menjadi ditutup di 75,29 dolar AS per barel.

Baca Juga: PeduliLindungi Masih Jadi Syarat Perjalanan, Anak-anak Belum Diperkenankan

Sebelumnya, WTI mencapai tingkat tertinggi sesi di 76,67 dolar AS, tertinggi sejak Juli.

Penurunan harga minyak juga terjadi di tengah dolar AS yang lebih kuat, karena secara historis harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, mengalami kenaikan 0,41 persen menjadi 93,7686 pada akhir perdagangan Selasa 28 September 2021.

Harga acuan minyak telah melonjak belakangan ini, karena permintaan bahan bakar meningkat.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tajam Capai Level Terendah Usai Penguatan Dolar dan Melonjaknya Imbal Obliasi

Kemudian, para pedagang memperkirakan negara-negara penghasil minyak utama akan memutuskan untuk menjaga pasokan tetap ketat ketika Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bertemu minggu depan.

"Anda mungkin memiliki cukup banyak profit taking, karena kami mengalami kenaikan harga yang cukup luar biasa," kata Andrew Lipow, presiden konsultan Lipow Oil Associates yang berbasis di Houston.

"Kami mungkin memiliki sedikit jeda di sini karena pasar mengevaluasi seperti apa dinamika penawaran dan permintaan."

Pasar juga menghadapi tantangan dari krisis listrik di China, konsumen energi terbesar di dunia.

“Penjatahan listrik baru-baru ini ke industri di China untuk menurunkan emisi dapat membebani kegiatan ekonomi, berpotensi mengimbangi dorongan dari penggunaan diesel tambahan dalam pembangkit listrik,” kata bank investasi Barclays.

Pengekspor minyak utama Afrika, Nigeria dan Angola akan berjuang sampai setidaknya tahun depan untuk meningkatkan produksi ke kuota yang ditetapkan oleh OPEC.

Produksi AS telah terganggu oleh Badai Ida dan Nicholas, yang melanda Teluk Meksiko AS pada Agustus dan September, merusak anjungan, jaringan pipa, dan pusat pemrosesan.***

Halaman:
1
2

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X