Harga Minyak Naik Seiring Kekhawatiran Investor soal Pasokan yang Lebih Ketat

- Selasa, 28 September 2021 | 09:24 WIB
Ilustrasi kilang minyak (Terry McGraw from Pixabay)
Ilustrasi kilang minyak (Terry McGraw from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Kekhawatiran investor soal pasokan yang lebih ketat, harga minyak naik untuk hari kelima berturut-turut pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).

Kekhawatiran investor soal pasokan yang lebih ketat di tengah meningkatnya permintaan di beberapa bagian dunia membuat Brent berada di level tertinggi sejak Oktober 2018 dan menuju 80 dolar AS per barel.

Untuk pengiriman November, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November bertambah 1,44 dolar AS atau 1,8 persen, menjadi menetap di 79,53 dolar AS per barel, setelah membukukan kenaikan tiga minggu berturut-turut.

Dalam periode yang sama minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat 1,47 dolar AS atau 2,0 persen, menjadi ditutup di 75,45 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juli, setelah naik selama lima minggu berturut-turut.

Baca Juga: Harga Emas Nyaris Tak Berubah, Dibatasi Penguatan Dolar dan Imbal Hasil Obligasi AS

Goldman Sachs menaikkan perkiraan akhir tahun sebesar 10 dolar AS untuk minyak mentah Brent menjadi 90 dolar AS per barel.

Merebaknya varian Delta dari virus corona serta Badai Ida yang menghantam produksi AS membuat pasokan global telah mengetat karena pemulihan cepat permintaan bahan bakar.

“Sementara kami telah lama mempertahankan pandangan minyak bullish, defisit pasokan-permintaan global saat ini lebih besar dari yang kami harapkan, dengan pemulihan permintaan global dari dampak Delta bahkan lebih cepat dari perkiraan kami di atas konsensus dan dan dengan pasokan global masih kurang dari perkiraan di bawah konsensus kami,” kata Goldman.

Terperangkap oleh rebound permintaan, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu mereka, yang dikenal sebagai OPEC+, mengalami kesulitan meningkatkan produksi karena kurangnya investasi atau penundaan pemeliharaan akibat pandemi.

Baca Juga: Startup 'JasTukang', Jembatani Tukang Serabutan dan Warga Pengguna Jasa

“Kenaikan harga minyak terus berlanjut melampaui apa yang sebagian besar pedagang perkirakan bullish dan diimpikan beberapa bulan lalu, dan Brent meluncur menuju ambang batas 80 dolar AS per barel mencerminkan pasar minyak mentah yang sangat ketat,” kata Louise Dickson, analis pasar minyak senior di Rystad Energi.

Permintaan minyak global diperkirakan akan mencapai tingkat pra-pandemi pada awal tahun depan karena ekonomi pulih, meskipun kapasitas penyulingan cadangan dapat membebani prospek, kata produsen dan pedagang pada konferensi industri.

Di India, impor minyak mencapai puncak tiga bulan pada Agustus, rebound dari posisi terendah hampir satu tahun yang disentuh pada Juli, karena penyulingan di importir minyak mentah terbesar kedua dunia itu menimbun untuk mengantisipasi permintaan yang lebih tinggi.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hyundai Optimistis Creta Bisa Merajai Segmen SUV

Rabu, 1 Desember 2021 | 19:52 WIB
X