Dominasi BUMN Tidak Sejalan dengan Keterbukaan untuk Pemulihan Ekonomi

- Jumat, 24 September 2021 | 11:00 WIB
Ilustrasi pemulihan ekonomi (Geralt / Pixabay)
Ilustrasi pemulihan ekonomi (Geralt / Pixabay)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kehadiran pemerintah lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak sejalan dengan keterbukaan yang dibutuhkan untuk memulihkan perekonomian.

Pandemi Covid-19 telah berdampak cukup signifikan untuk perekonomian Indonesia dan keterbukaan ekonomi perlu ditingkatkan untuk memulihkannya.

“Meningkatnya pengeluaran pemerintah, target pendapatan dan ukuran perusahaan yang dikendalikan pemerintah, maka pengambilan keputusan pemerintah juga akan berbanding lurus dengan hal tersebut tetapi dengan mengorbankan pilihan individu dan kebebasan ekonomi berkurang,” jelas Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta.

Dominasi BUMN pada sektor-sektor strategis terlihat jelas dengan pembentukan holding atau induk pada sektor perkebunan, pupuk, tambang, migas dan farmasi.

Baca Juga: Kinerja APBN Membaik, Menkeu Sebut Pemulihan Ekonomi Juga Ikut Terdampak

Yang terbaru adalah pembentukan holding BUMN pangan di bawah RNI dan juga holding gula SugarCo yang menggabungkan beberapa perusahaan pelat merah di dalamnya.

Walaupun tujuannya adalah untuk memperkuat entitas bisnis, meningkatkan efisiensi dan menggerakkan sektor pertanian, penggabungan ini berpotensi mengurangi minat investor untuk menanamkan modalnya di sektor ini.

“Dapatkah penggabungan ini benar-benar meningkatkan efisiensi seperti yang diklaim, atau justru hanya memperburuk inefisiensi yang ada menjadi satu perusahaan besar yang sangat tidak efisien dan berpotensi mencari rente? Efektivitas penggabungan masih perlu dibuktikan,” terang Felippa.

Felippa menambahkan, anggapan dominasi BUMN dapat menghambat masuknya investasi perlu dipertimbangkan pemerintah karena investor tidak akan mau membawa aliran investasi ke Indonesia jika tidak ada lingkungan bisnis tidak kompetitif.

Baca Juga: Permintaan Bahan Bakar Meningkat, Harga Minyak Naik di Akhir Perdagangan

Sementara di saat yang bersamaan, investasi masih merupakan faktor krusial bagi kelangsungan pembangunan Indonesia karena mereka memiliki teknologi yang bisa menciptakan nilai tambah ekonomi.

Terhambatnya investasi karena intervensi pemerintah dan BUMN yang berlebih di struktur perekonomian malah dapat menutup kesempatan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas.

Secara umum, Indonesia memiliki skor yang sangat baik dalam kategori size of the government.

Hal ini  yang diukur dengan porsi konsumsi pemerintah, pembayaran transfer/subsidi, investasi pemerintah, tarif pajak marjinal teratas, serta kepemilikan aset negara pada Economic Freedom of The World: Annual Report 2021.

Namun laporan ini juga mencatat bahwa kinerja positif pada kategori terakhir ini dikaburkan oleh fakta bahwa itu adalah satu-satunya kategori di mana Indonesia mengalami penurunan skor antara tahun 2015 dan 2019.

Penurunan ini adalah hasil dari kepemilikan aset negara.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pasar Kaliwungu jadi Percontohan Penerapan QRIS

Kamis, 25 November 2021 | 16:49 WIB

Faskes di Tanah Air Bisa Bersaing dengan Negara Maju

Kamis, 25 November 2021 | 14:25 WIB
X