Ribuan Bambu Wanagama untuk Pelestarian Alam

Rosikhan
- Rabu, 4 Maret 2020 | 21:48 WIB
TANAM BIBIT: Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng IPU ASEAN Eng menanam bibit bambu sebagai penanda program pelestarian alam. (suaramerdeka.com/dok)
TANAM BIBIT: Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng IPU ASEAN Eng menanam bibit bambu sebagai penanda program pelestarian alam. (suaramerdeka.com/dok)

YOGYKARTA, suaramerdeka.com - Universitas Gajah Mada membangun Hutan Bambu Program Pelestarian Alam di Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHDTK) Wanagama, Kabupaten Gunungkidul.

Pengembangan ini merupakan kerja sama antara UGM dan PT Taspen (Persero) melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) Taspen dalam rangka menciptakan kelestarian alam yang berkelanjutan.

''Salah satu upaya untuk melestarikan alam dengan menanam bambu. Secara ekologis, bambubisa menyimpan air dan menyuburkan banyak mikroorganisme yang tumbuh di bawahnya,'' ungkap Direktur Wanagama, Dwiko Budi Permadi PhD, kemarin.

Selain mampu menyimpan air dalam jumlah yang besar, bambu juga menyimpan cadangan karbon yang baik untuk mitigasi perubahan iklim. Di samping itu, bambu mempunyai manfaat ekonomis karena batangnya bisa menjadi material bangunan yang tangguh dan rebungnya menjadi sumber pangan masyarakat.

Kegiatan Pelestarian Hutan Bambu Wanagama mulanya digagas oleh Fakultas Kehutanan UGM sebagai bagian dari gerakan 1.000 desa bambu yang menjadi rencana strategis KLHK dan Yayasan Bambu Lestari, khususnya klaster Yogyakarta.

Bibit Tanaman

Hutan Bambu Wanagama berada di lokasi petak 7, 13 dan 16. Taspen memberikan bantuan berupa bibit tanamam bambu petung total sebanyak 2.300 ang telah ditanam secara bertahap. Pada bulan Desember 2019, penanaman tahap pertama telah dilakukan sesuai target yaitu sebanyak 1.100 bibit di atas lahan seluas satu hektare yang lokasi tanamnya tidak jauh dari sungai sehingga diharapkan peluang hidup tanaman bambu menjadi lebih tinggi.

Penanaman tahap berikutnya sebanyak 1.100 bibit telah selesai dan sisanya 100 bibit digunakan untuk penyulaman. Selain itu, teknologi infus bambu juga diterapkan untuk mengantisipasi kekurangan air di musim kemarau.

Dwiko berharap dalam 5 – 10 tahun ke depan akan tumbuh industri pengolahan bambu di pedesaan dan lembaga desa serta pemerintah daerah. Sejalan dengan itu, UGM pun akan berupaya untuk terus mengembangkan teknologi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi bambu.

Halaman:

Editor: Rosikhan

Terkini

X