Tingkatkan Sinergi dengan Koperasi Dorong Ekspor Kayu Balsa

- Jumat, 24 Januari 2020 | 21:28 WIB
foto: istimewa
foto: istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Permintaan pasar luar negeri akan kebutuhan kayu balsa, mendorong ekportir bersinergi dengan koperasi untuk meningkatkan ekspor. Hal ini dilakukan pengusaha yang bersinergi dengan Koperasi Garuda Nusantara Jaya (KGNJ) untuk melancarkan ekspor kayu balsa ke Republik Rakyat Tiongkok- RRT. KGHJ merupakan koperasi yang bersinergi dengan Lembaga Nahdlatul Ulama (NU).

Eksportir kayu balsa, Arizon Sunizah mengatakan, kebutuhan kayu balsa di pasar internasional sangat tinggi. Ditambah dengan ketersediaan bahan yang semula ada di Papua mulai menipis.

"Skala nasional baru ada dua eksportir khusus kayu balsa, sementara permintaan dari berbagai negara seperti RRT setiap harinya mencapai 558 kubik atau setara sembilan kontainer. Selain Tiongkok peluang ekspor kayu yang mempunyai bobot ringan disejumlah negara di Eropa," paparnya Kamis (23/1).

Pihaknya menambahkan dengan harga mencapai 500 Dolar AS sampai 600 Dolar AS per kubiknya, eksportir kayu balsa baru bisa mencukupi permintaan satu buyer asal Tiongkok, dengan total 186 kubik atau tiga kontainer. ''Padahal masih ada dua buyer asal Tiongkok lagi yang meminta,'' terang Arizon.

Dengan demikian tambah Arizon, pihaknya bersama dengan KGNJ akan berusaha meningkatkan ekspor dengan cara memperbanyak ketersediaan bahan melalui penanaman tanaman balsa dibeberapa pondok pesantren.

"Penanaman harus dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pasar, serta mendongkrak ekspor. Untuk itu kerjasama bersama KGNJ kami lakukan. Diantaranya dengan cara memberi pelatihan dan pendampingan terhadap pengelola pondok pesantren untuk budidaya pohon balsa. Kalau sudah tercukupi, tentunya kami akan melakukan ekspansi ekspor ke negara lainya," katanya.

Sementara itu Ketua KGNJ, Joko Krismiyanto, optimistis dengan melibatkan pondok pesantren dapat menggenjot komoditi ekspor yang sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo.

''Pohon balsa merupakan tanaman tropis, dan pastinya bisa ditanam di tanah Pulau Jawa. Selain margin pasar bagus, tanaman ini hanya membutuhkan waktu 2,5 tahun sudah bisa dipanen. Maka dari itu kami prioritaskan budidaya pohon balsa. Dengan cara menggerakan sejumlah pondok pesantren untuk membudidayakannya," jelas Joko.

Pihaknya menambahkan, dalam kerjasama dengan eksportir, posisi koperasi menjadi fasilitator untuk petani disekitar pondok pesantren dan eksportir.

Halaman:

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

X