Intimidasi Pimpinan Kantor Hukum, Salah Satu Bank Swasta Disomasi

- Rabu, 27 November 2019 | 12:55 WIB
foto ilustrasi - istimewa
foto ilustrasi - istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Upaya salah satu bank swasta untuk meningkatkan performa kinerja perusahaan, sepertinya tak berbanding lurus dengan kejadian yang ada di lapangan. Sebab, banyak aduan non-nasabah karena ikut diintimidasi dan diteror staf collection atau debt collector.

Salah satu yang terkena intimidasi adalah Edwin, pimpinan kantor hukum Edwin & Partners Law Office yang bermarkas di Serpong, Tangerang. Dia merasa terganggu akibat intimidasi debt collector Card Center bank swasta itu. Padahal, Edwin bukan merupakan nasabah bank swasta dan tidak memiliki perkara dengan bank tersebut.

Edwin lalu menceritakan kronologi yang dialaminya itu. Menurut dia, salah satu rekan kerja di kantornya punya mertua. Mertua tersebut punya utang ke bank swasta. Sempat ada debt collector mendatangi rumah mertua itu. Setelah itu, berkali-kali debt collector menagih lewat telepon. Anehnya, Edwin yang bukan bagian dari keluarga nasabah, ikut diintimidasi lewat telepon agar menyampaikan masalah tersebut ke mertua rekan kerjanya.

Dia mencatat kejadian intimidasi ini sudah berjalan selama satu pekan. Jika dihitung, dalam satu hari bisa menelepon hingga puluhan kali. Menurutnya, nomor yang dipakai debt collector untuk meneror tercatat ada 78 nomor berbeda dan 10 nomor kantor berbeda. Debt collector yang sering menghubunginya itu bernama Royko. "Apa yang dilakukan debt collector Bank ini sangat meresahkan. Cara-cara yang dilakukan tidak manusiawi. Bank besar cara menagihnya kok seperti pinjaman online. Anehnya, dia tahu data pribadi saya, mulai rumah saya, kantor saya hingga dari mana saya kuliah, ini dari mana," ujar Edwin, kepada wartawan, Rabu (27/11).

Sebagai pengacara, dia tak akan tinggal diam melihat masalah ini. Edwin dan rekan-rekannya siap menggugat bank tersebut hingga somasi. Lawyer yang pernah menangani nasabah berhadapan dengan  asuransi AJB Bumiputera tersebut bakal menggugat Bank Mega ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). "Jajaran direksi akan kami gugat supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Selain saya, mungkin banyak orang lain yang mengalami peristiwa meresahkan ini," kata Edwin.

Apa yang diutarakan Edwin memang benar adanya. Seperti yang dialami Listiyani asal Jakarta Barat. Seperti dikutip mediakonsumen.com, Listiyani bukan yang memiliki kredit macet di bank tersebut dan bukan nasabah bank. Tapi, pemegang kartu kredit adalah ibunya dan itu sudah dilunasi dengan adanya bukti pelunasan. Namun, dia bingung karena utang itu muncul lagi.

Setelah itu, staf collection menghubunginya secara tidak sopan, seolah dia yang punya utang. Dan ajaibnya, debt collector tersebut mengetahui tempat dia bekerja, hingga menelponnya berkali-kali yang membuatnya cukup resah. Dan, dia juga ditelpon berkali-kali tanpa jeda ke tempat dia bekerja, padahal dia sudah resign. Atas peristiwa itu, dia minta agar bank swasta itu punya etika dalam menagih sesuai ketentuan dari Bank Indonesia dan kode etik

Keluhan Listiyani itu mendapat balasan dari Corporate Secretary bank tersebut, Christiana M. Damanik. Pihaknya langsung menghubungi staf collection untuk menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami Listiyani. Dia juga menginformasikan bahwa tagihan kredit Bank Mega sudah diselesaikan.

Editor: Nugroho

Tags

Terkini

Program BI Religi Bantu Percepatan Vaksinasi Covid-19

Jumat, 3 Desember 2021 | 08:12 WIB

Hyundai Optimistis Creta Bisa Merajai Segmen SUV

Rabu, 1 Desember 2021 | 19:52 WIB
X