Harga Minyak Nyaris Tak Ada Perubahan Seiring Terjangan Badai Nicholas

- Rabu, 15 September 2021 | 09:24 WIB
Kilang Minyak lepas pantai. (suaramerdeka.com / dok)
Kilang Minyak lepas pantai. (suaramerdeka.com / dok)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Nyaris tak ada perubahan pada harga minyak di akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu pagi WIB).

Untuk pengiriman November, minyak mentah berjangkan Brent ditutup naik tipis sembilan sen menjadi 73,60 dolar AS per barel setelah mencapai tertinggi sesi di 74,28 dolar AS.

Lalu, untuk pengiriman Oktober, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik satu sen menjadi menetap di 70,46 dolar AS per barel, setelah menyentuh tertinggi 71,22 dolar AS.

Stagnannya harga minyak disebabkan badai tropis Nicholas yang membawa hujan lebat dan pemadaman listrik di Texas.

Baca Juga: Susah Konsentrasi Saat Belajar Online? Coba Terapkan 4 Tips Berikut

Badai ini menyebabkan lebih sedikit kerusakan pada infrastruktur energi AS daripada yang disebabkan oleh Badai Ida awal bulan ini.

Regulator Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan (BSEE) menyebut, lebih dari 39 persen produksi minyak mentah dan gas alam Teluk Meksiko AS tetap ditutup pada Selasa 14 September 2021.

Badai Nicholas mendarat di Texas pada Senin 13 September 2021 dan akan mencapai Louisiana pada Rabu waktu setempat, membawa lebih banyak banjir dan hujan lebat ke fasilitas minyak Teluk.

"Situasi Teluk belum diselesaikan sendiri dengan cepat," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Baca Juga: Fitur Baru Aplikasi PeduliLIndungi Diluncurkan, WNI di Luar Negeri Bisa Mengakses

Royal Dutch Shell menutup produksi di anjungan minyak lepas pantai karena angin kencang. Lalu lintas kapal di beberapa pusat energi dihentikan karena kondisi cuaca yang sulit.

"Akan ada masalah ekspor-impor karena Houston berada di zona semi-banjir," kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho.

Minyak berubah negatif selama sesi tersebut setelah data baru dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan penurunan inflasi dan karena surutnya kekhawatiran tentang dampak badai pada sektor energi.

Setelah tiga bulan penurunan permintaan minyak global, peluncuran vaksin COVID-19 akan menghidupkan kembali selera terhadap minyak yang tertekan oleh pembatasan pandemi, terutama di Asia, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada Selasa (14/9).

IEA memperkirakan permintaan akan rebound 1,6 juta barel per hari (bph) pada Oktober dan terus tumbuh hingga akhir tahun.

Secara keseluruhan, badan tersebut menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global 2021 sebesar 105.000 barel per hari menjadi 5,2 juta barel per hari, tetapi menaikkan angka 2022 sebesar 85.000 barel per hari menjadi 3,2 juta barel per hari.

Perkiraan ini di bawah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memperkirakan permintaan akan tumbuh sekitar 5,96 juta barel per hari tahun ini dan 4,15 juta barel per hari tahun depan.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Inflasi AS

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 08:48 WIB

Tekan Biaya Operasional Logistik dengan Dexlite

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:24 WIB
X