Produksi yang Masih Lambat Picu Kenaikan Harga Minyak dalam 6 Minggu Terakhir

- Selasa, 14 September 2021 | 09:24 WIB
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)
Kilang Minyak. (Dariusz Kopestynski from Pixabay)

NEW YORK, suaramerdeka.com - Masih lambatnya produksi AS seiring hantaman Badai Ida membuat harga minyak naik ke level tertinggi dalam enam minggu pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB).

Untuk pengiriman November, harga minyak mentah berjangka Brent naik sebesar 59 sen atau 0,8 persen, menjadi menetap di 73,51 dolar AS per barel.

Kenaikan tersebut merupakan penutupan tertinggi sejak 30 Juli.

Sementara untuk pengiriman Oktober, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 73 sen atau 1,1 persen, menjadi berakhir di 70,45 dolar AS per barel.

Baca Juga: DPRD Setujui Perubahan KUA PPAS Tahun Anggaran 2021, Diputuskan dalam Rapat Paripurna

Kenaikan itu juga menjadi penutupan tertinggi sejak 3 Agustus.

Minyak tetap mengalami kenaikan meski Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan permintaan minyak dunia untuk kuartal terakhir 2021 karena varian Delta Virus Covid-19.

Seiring adanya kekhawatiran badai lain dapat mempengaruhi produksi di Texas minggu ini juga memicu kenaikan harga minyak.

“Dampak Badai Ida berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan pasar dan karena beberapa kapasitas produksi minyak masih ditutup minggu ini, harga-harga naik karena pasokan belum dipulihkan dan sehingga tidak mencapai kilang-kilang yang telah memulai kembali operasi lebih cepat daripada para produsen,” kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy, Nishant Bhushan.

Gangguan lebih lanjut dari cuaca buruk yang mungkin sudah dekat, dengan Pusat Badai Nasional AS memproyeksikan Badai Tropis Nicholas akan menghantam sepanjang pantai Texas Selatan pada Senin waktu setempat dan mendarat di dekat Corpus Christi malam hari.

Baca Juga: Bengawan Solo Tercemar, Aliran Air PDAM ke 12.000 Pelanggan Macet

Selain perkiraan permintaan OPEC, faktor bearish lainnya membebani kenaikan harga minyak, termasuk kenaikan produksi minyak serpih AS.

Kemudian, potensi peningkatan pasokan dari rencana pelepasan minyak dari cadangan strategis di Amerika Serikat dan China, serta kemungkinan Iran bisa lebih dekat menjual minyak ke dunia lagi.

Produksi minyak AS dari tujuh formasi serpih utama diperkirakan akan meningkat sekitar 66.000 barel per hari pada Oktober menjadi 8,1 juta barel per hari.

Itu merupakan kenaikan tertinggi sejak April 2020, menurut laporan produktivitas pengeboran bulanan Badan Informasi Energi.

Para pedagang mencatat rencana pelepasan minyak dari cadangan strategis China dapat meningkatkan pasokan yang tersedia di konsumen minyak terbesar kedua di dunia itu.

Pemerintah AS setuju untuk menjual minyak mentah dari cadangan darurat negara itu kepada delapan perusahaan termasuk Exxon Mobil, Chevron dan Valero, di bawah lelang yang dijadwalkan untuk mengumpulkan uang buat anggaran federal.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Inflasi AS

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 08:48 WIB

Tekan Biaya Operasional Logistik dengan Dexlite

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:24 WIB
X