Jateng Digital Festival 2021: Pacu Digitalisasi Transaksi Pemda Serta Sektor Ekonomi dan Wisata

- Jumat, 10 September 2021 | 06:45 WIB
Jateng Digital Festival 2021 menjadi momentum pengukuhan TP2DD se-Jateng. (suaramerdeka.com / dok)
Jateng Digital Festival 2021 menjadi momentum pengukuhan TP2DD se-Jateng. (suaramerdeka.com / dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Transformasi digital menjadi salah satu kunci pendorong pemulihan ekonomi nasional dan daerah di masa pandemi.

Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) diketuai Kepala Daerah pun dikukuhkan yang mana telah dibentuk satu TP2DD Provinsi Jawa Tengah dan 35 TP2DD di tingkat Kabupaten/Kota di Jateng.

Terbentuknya TP2DD tersebut merupakan sinergi seluruh Pemda di Jateng dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jateng.

Penyelenggaraan Jateng Digital Festival 2021 sendiri menjadi momentum pengukuhan seluruh TP2DD se-Jateng yang dirangkai dengan sharing session mengenai bagaimana penerapan digitalisasi di berbagai sendi ekonomi.

Baca Juga: Penempatan 2.300 Pedagang Pasar Johar Terapkan Sistem Zonasi, Pemindahan Mulai 24 September

Acara ini dihadiri oleh sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Muhammad Hudori, bersama dengan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang mengukuhkan TP2DD dalam kesempatan tersebut mengajak seluruhnya bersinergi mendorong digitalisasi dan terus berinovasi serta menginspirasi agar seluruh ekosistem baru nantinya bisa melek digital.

"Perlu membuat terobosan contoh saja salah satu kades di Purworejo yang melihat potensi desa di tengah tekanan pandemi membuat marketplace kecil-kecilan, mendata produk petani tawarkan ke orang lalu yang mau jadi kurir didaftar. Untuk pemerintahan desa ia membuat aplikasi yang memudahkan warganya,'' kata Ganjar dalam acara yang juga ditayangkan secara virtual tersebut.

Selain perwakilan kepala daerah yang hadir secara langsung maupun virtual, juga hadir Kepala OJK Regional 3 Jateng DIY Aman Santosa dan juga M Firdauz Muttaqin selaku
Deputi Kepala Perwakilan BI Jateng.

Baca Juga: Persiapan Lomba Keterampilan Pramuka, 15 Siswa SDN Gedawang 01 Cari Cara Cetak Juara

Acara juga diisi dengan sharing session bertema sinergi kebijakan dan inovasi untuk akselerasi pemulihan ekonomi dan stabilitas inflasi.

Di segmen pertama diskusi membahas mengenai e-government dan wisata 4.0 serta tema UMKM Go Digital di segmen kedua.

Selanjutnya di segmen ketiga membahas mengenai bagaimana digitalisasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi.

Dari sisi pemangku kebijakan, narasumber terdiri dari Kemenko Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Cilacap.

Baca Juga: Jokowi Resmi Luncurkan Perpres DBON Tepat dengan Peringatan Haornas ke-38

Dari sisi pelaku ekonomi, narasumber didukung oleh pelaku usaha pariwisata, perbankan, UMKM, dan petani milenial.

Sharing session ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan menjadi pedoman bagi seluruh pihak untuk mengimplementasikan digitalisasi sesuai kewenangan masing-masing.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Pribadi Santoso mengatakan, digitalisasi diharapkan bisa diaplikasikan pada berbagai sendi aktivitas ekonomi.

Mulai dari mendukung optimalisasi produksi, kelancaran perdagangan antar daerah, dan pemasaran berbagai komoditas secara lebih efisien.

Baca Juga: IKM di Solo Naik Kelas, Suplai Komponen ke Industri Manufaktur

Saat ini, perkembangan digitalisasi di Jateng sangat signifikan, tercermin dari tingginya merchant pengguna QRIS yang mencapai 673 ribu, pertumbuhan agen Layanan Keuangan Digital sebesar 10,6 persen (yoy) dan peningkatan penggunaan nominal uang elektronik yang tumbuh 64,3 persen (yoy).

Untuk mengoptimalkan peran digitalisasi dalam mendorong pemulihan ekonomi di daerah, sinergi berbagai pihak sangat penting.

Jateng Digital Festival yang diselenggarakan secara hybrid ini dihadiri peserta dari berbagai kalangan meliputi pemerintah provinsi, pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, akademisi, serta masyarakat umum.

Diharapkan, pemahaman tentang bagaimana digitalisasi dapat mendorong perekonomian, diharapkan semakin meningkat.

Andry Prasmuko, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng menambahkan, untuk mensukseskan digitalisasi ini tentu saja membutuhkan sistem pembayaran yang cepat, efisien dan andal.

Sinergi dan kolaborasi dalam membuat aplikasi terintegrasi sangatlah diperlukan salah satunya sudah dilakukan di sektor pariwisata bekerjasama dengan pengelola PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratuboko.

Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) adalah salah satu upaya dalam menyukseskan wisata 4.0.

QRIS merupakan penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code.

QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjaga keamanannya.

Semua Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran yang akan menggunakan QR Code Pembayaran wajib menerapkan QRIS.

Dengan QRIS, seluruh aplikasi pembayaran dari Penyelenggara manapun baik bank maupun nonbank yang digunakan masyarakat, dapat digunakan di seluruh toko, pedagang, warung, parkir, tiket wisata, donasi (merchant) berlogo QRIS.

Meskipun penyedia QRIS di merchant berbeda dengan penyedia aplikasi yang digunakan masyarakat.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

14 Pilihan Sistem Akuntansi Terbaik untuk Bisnis

Selasa, 7 Desember 2021 | 18:29 WIB
X