IKM di Solo Naik Kelas, Suplai Komponen ke Industri Manufaktur

- Kamis, 9 September 2021 | 18:26 WIB
BINCANG VIRTUAL : Bincang virtual bertema “Semangat Kolaborasi Memperkuat Global Supply chain Industri Otomotif di Indonesia”. (suaramerdeka.com/Diaz Abidin)
BINCANG VIRTUAL : Bincang virtual bertema “Semangat Kolaborasi Memperkuat Global Supply chain Industri Otomotif di Indonesia”. (suaramerdeka.com/Diaz Abidin)

 


SEMARANG, suaramerdeka.com - Sebanyak sembilan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Solo berkesempatan memasok produknya industri manufaktur bahkan otomotif. IKM tersebut bisa naik kelas karena berkontribusi memperkuat rantai pasokan ke industri yang lebih besar.

IKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) itu memasok jumlah komponen lebih dari 47 ribu unit PT Yogya Presisi Tehnikatama Industri (YPTI). Nilai transaksi dari kerja sama ini lebih dari Rp 1,5 miliar.

“Dengan kolaborasi ini semoga dapat terus memompa semangat bagi pelaku IKM. Tidak hanya di Solo, tetapi juga di seluruh Indonesia. Ke depan supaya lebih banyak lagi IKM sebagai pemasok dan menjadi bagian dari rantai pasokan (supply chain) industri otomotif di Indonesia,” jelas Ketua Pengurus YDBA, Sigit P. Kumala, dalam bincang virtual bertema “Semangat Kolaborasi Memperkuat Global Supply chain Industri Otomotif di Indonesia”, Rabu, 8 September 2021.

Baca Juga: Penempatan 2.300 Pedagang Pasar Johar Terapkan Sistem Zonasi, Pemindahan Mulai 24 September

Pihaknya menyatakan, sejak tahun 2015 menginisiasi adanya program ‘Ayah Angkat’. Di mana memperluas kolaborasi YDBA dan Stakeholder, untuk membina IKM agar produknya memenuhi standar quality, cost & delivery (QCD).

“Saat ini ada 2.000 IKM aktif binaan kami. Ada sekitar 60-an IKM yang telah jadi bagian suplai terhadap industri besar terutama grup Astra. Hitungannya hampir delapan persen yang tersebar di Jabotedabek, Tegal, hingga Kalimantan Timur.

Targetnya ke depan diperbesar terus karena sesuai aturan pemerintah tentang kandungan dalam negeri (TKDN) suatu produk perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut, Kementerian Perindustrian, Dini Hanggandari, memerinci, terdapat 4,4 juta IKM yang tersebar di Indonesia.

Baca Juga: Sidang Putusan Bendung Bener, Sebagian Tuntutan Warga Dikabulkan

Di mana sentra-sentra IKM tersebar di banyak kota. Seperti di Karawang, Bekasi, Sukabumi, Purbalingga, Tegal, Kendal, Klaten, Solo, DI Yogyakarta, Sidoarjo, Pasuruan, dan lain-lain.

“Dari jumlah tersebut sebanyak 30-40 persen sudah saling berkolaborasi untuk menjadi pemasok komponen ke industri seperti otomotif,” ujarnya.

Direktur PT YPTI, Prasetyo Yulianto Paulus, menerangkan, program ‘Ayah Angkat’ memberikan kesempatan YPTI untuk berbagi ilmu.

Selain itu memberikan manfaat dalam meningkatkan produktivitas bisnis industri.

“Sekarang kita bersama-sama harus mendorong IKM agar punya sistem dengan kualitas yang lebih bagus. Maka pelan- pelan diarahakan kesana, agar tetap bertahan dan eksis. Lalu supaya IKM juga bisa bekerja sama dengan sekolah kejuruan di sekitar, sehingga ada praktek siswa disana sebagai pendidikan. Tujuan ke depan tentu agar IKM bisa mandiri,” terangnya.

Baca Juga: Sejumlah Kebakaran jadi Perhatian, Perlu Peremajaan Kabel Listrik

Sarwoko, salah satu pemilik IKM dengan nama CV. Kurnia Teknik, senang mendapat kesempatan memasarkan produknya ke industri besar.

Selain itu mendapat kesempatan meningkatkan kompetensi, terutama dalam menghasilkan produk yang memiliki standar QCD.

“Kami pertama kali tentu akan meningkatkan kualitas. QCD diutamakan. Dahulu memproduksi barang-barang yang standar sebetulnya ribet. Namun terus berusaha agar lebih baik ke depan,” jelasnya. 

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BSN Bikin Etalase Digital Produk UKM Ber-SNI

Jumat, 3 Desember 2021 | 20:25 WIB

Ganjar Melapak, UMKM Kembali Tersenyum

Sabtu, 20 November 2021 | 11:24 WIB

32.620 Debitur di Magelang Terima Pinjaman Ultra Mikro

Minggu, 14 November 2021 | 21:30 WIB
X