• KANAL BERITA

Perwakilan Komunitas Ikuti Technical Meeting

Jelang Perhelatan SMCA 2018

PERWAKILAN KOMUNITAS : Masing-masing komunitas mengirim perwakilannya untuk mengikuti technical meeting Suara Merdeka Community Award 2018 di lantai 9, Jalan Pandanaran 30. (suaramerdeka.com / Dini Failasufa)
PERWAKILAN KOMUNITAS : Masing-masing komunitas mengirim perwakilannya untuk mengikuti technical meeting Suara Merdeka Community Award 2018 di lantai 9, Jalan Pandanaran 30. (suaramerdeka.com / Dini Failasufa)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jelang perhelatan Suara Merdeka Community Award (SMCA) Jumat-Sabtu (11- 12/5), Technical Meeting (TM) digelar. Sejumlah komunitas yang terdaftar sebagai pengisi acara dan stan hadir dalam kegiatan yang bertempat di Gedung Menara Suara Merdeka Lt 9 Jalan Pandanaran No 30, Jumat (4/5).

Marketing Communication Suara Merdeka Network (SMN), Aldo Adistya mengatakan, SMCA merupakan acara untuk komunitas yang bisa digunakan sebagai ajang pamer. Melalui SMCA, masing-masing komunitas dapat menampilkan keahlian mereka. Koordinator Komunitas Harapan, Dodi Susetiadi mengatakan, anak didiknya akan menampilkan Tari Ratoeh Jaroe di panggung SMCA 2018 nanti.

Penari berjumlah 13 anak yakni Devi, Nabila, Nia, Tita, Sinar, Dila, Sayna, Insan, Winda, Fitria, Riska, Balqis, dan Nikmah. ”Penari adalah adik-adik yang selama ini aktif berkegiatan di Komunitas Harapan. Penarinya 11 anak, dua anak sebagai cadangan. Pengiringnya atau sebutannya Syekh ada dua yaitu Daffa dan Radit,” ucap Odi, sapaan akrabnya.

Dia menjelaskan, persiapan dimulai Maret 2017. Dimulai selepas kegiatan ulang tahun ke-4 Komunitas Harapan pada Januari 2017, salah satu sukarelawan acara menawarkan diri melatih. ”Kak Wahyu yang mengajari tari. Waktu itu, langsung saya setujui karena sesuai dengan program kami, pengembangan minat bakat.” Target awal pentas pada November 2017, bertepatan dengan Hari Anak Sedunia. Tarian yang menuntut konsentrasi tinggi dan kekompakan itu membuat mundurnya jadwal pentas. ”Ditambah lagi, selama berproses bersama sering terjadi bongkar pasang penari. Ada beberapa yang mundur karena tidak kuat menahan sakitnya waktu latihan yang harus duduk bersimpuh lama dan gerakan tangan yang cepat,” ujar dia.

Pada Januari 2018 di acara ulang tahun ke-5 Komunitas Harapan, berhasil melakukannya dengan baik. ”Sejak itu, kami sering dapat tawaran untuk pentas. Informasinya, di Semarang jarang ada anak-anak yang biasa menampilkan tarian dari Aceh ini,” imbuh Odi.

Anak-anak, kata dia, berproses selama sembilan bulan lebih. Jadwal latihan digelar dua kali dalam sepekan. ”Pada SMCA 2017, anak-anak menari Hiphop,” paparnya.

Tari Ratoeh Jaroe merupakan tari kreasi yang identik dengan penari perempuan. Hampir mirip dengan Tari Saman. Pembedanya, Tari Saman hanya diiringi tepukan tangan, tepukan dada, dan syair yang dilantunkan oleh para penarinya. ”Jika tariannya diiringi dengan alat musik, biasanya rebana, itu bukan Tari Saman. Tari Ratoeh Jaroe diiringi dengan rebana,” ujarnya.

Sementara, Humas Komunitas Benik, Novita DP menerangkan pihaknya akan mengadakan workshop. Beberapa pelatihan yang selama ini mereka gelar di antaranya Sketching, Colouring, Moodboard, Recycle Your Denim, Mix and Match. ”Kami masih menentukan workshop apa nanti yang dilakukan,” tutur Novita.


(Red, Dini Failasufa, Aristya Kusuma Verdana/CN26/SM Network)