• KANAL BERITA

Wadah Kreativitas Desainer Muda di Kota Semarang

Benik Desainer

Komunitas Benik Desainer rata-rata anggotanya merupakan desainer muda yang ada di Kota Semarang dan sekitarnya. (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)
Komunitas Benik Desainer rata-rata anggotanya merupakan desainer muda yang ada di Kota Semarang dan sekitarnya. (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Desainer-desainer muda di Kota Semarang mencoba untuk membuktikan bahwa kreativitas mendesain pakaian tidak hanya dimiliki oleh para desainer-desainer ternama saja. Para desainer pemula atau muda asal Semarang ini mencoba merintis jalan karir mereka, dengan berbagai kegiatan yang tak kalah kreatifnya.

Para desainer muda Kota Semarang ini membentuk komunitas bernama Benik Desainer. Anggotanya rata-rata berusia 18 tahun hingga 37 tahun. Pertama kali terbentuk bernama Acak-Acak, merupakan bentukan resmi dari Susan Budiharjo, selaku pembimbing.

Awalnya, semua anggota rata-rata merupakan lulusan sekolah tata busana Susan Budiharjo. Hanya saja, mereka tidak berasal dari angkatan yang sama. Perubahan nama menjadi Benik Desainer dilakukan karena terkendala pada penerimaan anggota baru. Khususnya bagi mereka yang berasal dari luar sekolah tersebut.

''Saat masih Acak-Acak ruang gerak terbatas. Setiap hendak menggelar kegiatan, kami harus selalu membuat laporan dulu ke kantor pusat di Jakarta. Bila diacc maka kegiatan baru bisa dijalankan,'' ujar Sekertaris Benik, Nova Nugroho, baru-baru ini.

Pergantian nama menjadi Benik dilakukan pada Mei 2016, membuat pergerakan dari anggotanya semakin lebih fleksibel. Nama Benik diambil dari Bahasa Jawa yang berarti kancing. Ini merupakan bagian kecil dari sebuah busana namun memiliki manfaat penting.

''Filosofinya menyatukan dua sisi busana antara sebelah kanan dan kiri. Kami ingin menyatukan semua desainer muda dari latar belakang berbeda-beda,'' kata dia.

Ketua Seksi Program Acara Benik Desainer, Farisa Dian Utami mengatakan, perbedaan latar belakang berbeda-beda tidak menjadikan masalah. Justru Benik berusaha menyatukan semua itu.

''Tujuannya untuk mengembangkan fashion di Kota Semarang, khususnya anak-anak muda, yang selama ini masih belum terlalu berkembang dibandingkan kota-kota lainnya. Sebagai sebuah komunitas, kami turut ingin menciptakan lingkungan baru yang kreatif di Kota Semarang,'' ujar dia.

Benik pun telah membuat aneka kegiatan bersama komunitas lainnya, misalnya menggelar bazar, fashion, mau pun koleksi busana bersama. Permasalahannya, biaya untuk menggelar kegiatan fashion membutuhkan dana yang tidak sedikit.

''Beda halnya kalau digelar bersama-bersama dengan anggota komunitas. Tentunya biaya bisa dipikul bersama-sama dengan cara patungan,'' ungkapnya.

Bagi anggota di luar sekolah tata busana, anggota Benik memfasilitasinya dengan membuat kegiatan Trend.inc, kepanjangan dari Trend Incubator. Berisi desainer-desainer baru yang memiliki gairah sama dalam dunia fashion, namun sama sekali belum memiliki dasar kemampuan dalam bidang tersebut.

''Masing-masing anggota baru didorong agar mampu berusaha membuat brand sendiri. Ini merupakan fokus di bidang pelatihan, di luar kegiatan lain seperti pengembangan produk, bazar, dan fashion show. Diperuntukkan bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang dunia fashion. Semua dilatih oleh anggota-anggota di Benik Desainer,'' papar dia.


(Muhammad Arif Prayoga/CN40/SM Network)