Selain Tak Boleh Tembak Gas Air Mata, Ini Regulasi yang Harus Dilakukan Polisi Saat Amankan Pertandingan

- Senin, 3 Oktober 2022 | 08:48 WIB
 Tangkapan layar suporter Arema masu ke dalam lapangan Stadion Kanjuruhan Malang  (Instagram @ngapakfotball)
Tangkapan layar suporter Arema masu ke dalam lapangan Stadion Kanjuruhan Malang (Instagram @ngapakfotball)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Dunia sepak bola kembali berduka karena kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Kerusuhan di Kanjuruan terjadi setelah Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya, Sabtu, 1 Oktober 2022.

Kekalahan Arema di Kanjuruhan, menyulut kekecewaan dan emosi para suporter sehingga mereka turun ke lapangan dan melakukan tindakan anarkis.

Baca Juga: BSU 2022 Tahap 4 Cair Senin 3 Oktober 2022, Ini 2 Cara Pencairan BLT Subsidi Gaji Rp 600.000

Karena kekalahan jumlah massa, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan para suporter yang ricuh di lapangan.

Sayangnya, gas air mata itu juga diarahkan ke bagian tribun di mana banyak sekali penonton terkena imbasnya.

Karena kapasitas stadion yang overload dan pintu keluar yang tidak banyak, situasi dan kondisi di dalam stadion semakin tak terkendali.

Baca Juga: Akhirnya Buka Suara, Ini Pernyataan Keluarga Rizky Billar Terkait Dugaan KDRT dan Perselingkuhan yang Menimpa

Banyak penonton yang sesak napas dan panik akibat penembakan gas air mata. Mereka berdesakan untuk keluar dan menginjak-injak yang lain demi keselamatan diri sendiri.

Peristiwa itu menyebabkan setidaknya 125 orang meninggal dunia termasuk dua polisi, balita, dan remaja.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X