Piala Eropa 2020 Jadi Obat Italia Selama Pandemi

- Selasa, 13 Juli 2021 | 15:58 WIB
Foto: tangkapan layar Instagram Azzuri
Foto: tangkapan layar Instagram Azzuri

ROMA, suaramerdeka.com - Kesuksesan Gli Azzuri merengkuh trophy Piala Eropa 2020 seakan jadi obat setelah 18 bulan dalam neraka pandemi.

Italia adalah negara Barat pertama yang dihantam virus corona tahun lalu dan sejauh ini mencatat korban jiwa 127.775 orang yang lebih banyak ketimbang negara Eropa mana pun kecuali Inggris.

Italia menikmati kesuksesan Piala Eropa 2020 usai mengalahkan Inggris di Wembley lewat drama adu pinalti. Dipimpin oleh pelatih Roberto Mancini, para pemain mendarat tak lama disambut para penggemarnya.

"Kami benar-benar mesti berkumpul lagi, demi merayakan, demi kebahagiaan, demi momen bersama. Kami sungguh membutuhkannya," kata warga Roma Sara Giudice.

Baca Juga: 27 Exit Tol Jateng Ditutup, Masyarakat Diimbau Tetap di Rumah Saja

Sore harinya rombongan menjadi tamu kehormatan di Istana Quirinale tempat Presiden Sergio Mattarella berada, sebelum melakukan perjalanan singkat melalui pusat kota Roma guna diterima oleh Perdana Menteri Mario Draghi.

Bus tim biru dan putih itu bergerak lambat-lambat melewati jalan-jalan yang dipenuhi para penggemar yang bersorak-sorai sembari mengibarkan bendera, sebelum disambut seremoni di halaman kantor perdana menteri yang sudah berdiri sejak abad ke-16 itu.

"Kalian telah membuat kami senang, menyemangati kami, membawa kegembiraan dan pelukan kepada kamia," kata Draghi kepada tim yang didampingi oleh petenis Matteo Berrettini yang merupakan orang Italia pertama yang mencapai final Wimbledon.

Namun kalah melawan unggulan teratas Novak Djokovic pada beberapa jam sebelum Italia mengalahkan Inggris.

Baca Juga: Prihatin Aparat Tak Humanis Tegakkan PPKM Darurat, Puan: Kedepankan Empati

"Kalian telah menguatkan kami semua mengenai rasa memiliki Italia," kata Draghi.

Tim kemudian naik bus lainnya yang beratap terbuka menuju Via del Corso ke Piazza Venezia, tempat Mussolini biasa menyampaikan pidatonya. Para pemain melambai kepada kerumunan dan mengangkat piala itu tinggi-tinggi.

Sebagian besar pembatasan yang ditujukan untuk membatasi penularan virus ini telah dicabut dan Minggu itu terasa bagaikan pembebasan di banyak alun-alun di seluruh negeri di mana kemenangan sepak bola disambut oleh ledakan sorak-sorai, klakson mobil yang bersahutan dan linangan air mata.

"Kalian ada di depan mata kami. Kalian ada dalam hati kami. Rasa sakit mereka yang menderita. Kesulitan mereka yang bertekuk lutut karena pandemi," tulis kapten Giorgio Chiellini di Twitter.

Baca Juga: Southgate Kutuk Pelecehan Rasis pada Pemainnya

Pujian mengalir deras dari semua pihak, mulai dari politisi sampai pendeta, berharap keberhasilan di lapangan sepak bola membawa pesan lebih luas kepada negara yang mencatat resesi terburuknya tahun lalu sejak Perang Dunia Kedua dan kini mencari penebusan.

"Di belakang tim ini ada segenap bangsa yang tidak pernah menyerah, yang tak pernah berhenti, yang selalu menemukan energi baru guna menumpahkan keberanian," tulis asosiasi uskup Katolik Italia.

Federasi petani Coldiretti berharap perekonomian terdorong ke level serupa dengan 2006 ketika Azzurri menjuarai Piala Dunia. Saat itu, ekspor naik 10 persen tahun berikutnya, sementara kunjungan turi naik 3,5 persen ke negara itu karena brand nasional turut terangkat secara global, kata Coldiretti.

"Apakah (kemenangan) ini tetap menjadi kenangan indah dalam momen kelam atau malah menjadi simbol kelahiran kembali, semua itu tergantung kepada kita," tulis Corriere della Sera seperti dikutip Reuters.

Halaman:

Editor: Rosikhan Anwar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Chiellini Dibujuk Tampil di Piala Dunia 2022

Kamis, 15 Juli 2021 | 14:26 WIB

Piala Eropa 2020 Jadi Obat Italia Selama Pandemi

Selasa, 13 Juli 2021 | 15:58 WIB

Southgate Kutuk Pelecehan Rasis pada Pemainnya

Selasa, 13 Juli 2021 | 14:51 WIB
X