Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW; Kiai Fadlolan Dapat Kado Pernikahan dari Santri

Achmad Rifki
- Minggu, 1 November 2020 | 21:58 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Dr KH  Fadlolan Musyaffa' Lc MA menyerahkan tumpeng kepada istrinya Nyai Hj Fenty Hidayah SPd sebagai kado ulang tahun pernikahan Ke-22 dalam upacara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di masjid Raudlatul Janaah, kompleks pondok pesantren tersebut, kemarin. (SM/Agus Fathuddin)
Pengasuh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Dr KH Fadlolan Musyaffa' Lc MA menyerahkan tumpeng kepada istrinya Nyai Hj Fenty Hidayah SPd sebagai kado ulang tahun pernikahan Ke-22 dalam upacara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di masjid Raudlatul Janaah, kompleks pondok pesantren tersebut, kemarin. (SM/Agus Fathuddin)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Di tengah-tengah acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di pondok pesantren Fadhlul Fadhlan, kelurahan Pesantren, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, pengasuh pondok Dr KH  Fadlolan Musyaffa' Lc MA mendapat kado pernikahan dari para santri, kemarin.

Kiai yang juga Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jateng itu didaulat memotong tumpeng dan menyerahkan kepada istrinya Nyai Hj Fenty Hidayah SPd yang telah mendampingi hidupnya selama 22 tahun. Peristiwa itu disambut tepuk tangan riuh dan alunan shalawat dari para santri yang memadati masjid Raudlatul Janaah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammas saw di pesantren bilingual berbasis karakter salaf tersebut dilaksanakan dengan protokol kesehatan menghadirkan, jamaah pengajian ahad pagi, para pejabat dan aparat kelurahan setempat.

Kiai Fadlolan dalam tausiahnya menyampaikan bagaimana memaknai dan menghayati arti Maulid Nabi. ‘’Peringatan Maulid Nabi ini seharusnya jangan dijadikan ritual semata, tetapi harus dijalani dengan penuh makna. Kita harus yakin bahwa Rasulullah hadir dan menyatu dihati kita saat syair-syair maulid dibacakan,’’ tegas Fadlolan.
 
Menurutnya, hanya orang-orang yang hatinya mati yang tidak bisa tersentuh saat maulid dibacakan. ‘’Ingat, shalawat juga bagian dari tanda cinta. Bahkan sampai tingginya rasa cinta itu, dalam syair-syair shalawat tidak disebut nama Rasulullah secara langsung. Tapi menggantinya dengan ungkapan engkau matahari, engkau rembulan, engkau cahaya dan ungkapan-ungkapan lain yang menunjukan betapa agungnya akhlak Rasulullah," tuturnya.

Kiai lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir itu mengatakan, Rasulullah adalah teladan, junjungan, manusia yang memiliki akhlak yang sempurna. ‘’Muhammad saw selalu memikirkan umatnya, memohonkan ampun untuk umat yang bahkan tidak taat sekalipun. Semoga kita termasuk kedalam barisan yang kelak mendapatkan syafaatnya, serta mendapat tempat terdekat dengan junjungan kita di surga-Nya,’’ tutur Fadlolan.

Editor: Achmad Rifki

Terkini

Liga Spanyol: Barcelona Menang 3-1 di Kandang Villarreal

Minggu, 28 November 2021 | 05:26 WIB
X