Muncul Klaster Perkantoran di Sleman, Perusahaan Dinilai Telat Ambil Keputusan

Andika
- Sabtu, 17 Oktober 2020 | 11:29 WIB
Foto: istimewa
Foto: istimewa

SLEMAN, suaramerdeka.com - Kasus penularan Covid-19 pada salah satu perusahaan telekomunikasi yang berlokasi di Jalan Laksda Adisucipto Sleman terus bertambah. Jumat (16/10) sore  dilaporkan ada penambahan sebanyak lima kasus. Jadi, total sementara jumlah kasus pada klaster perkantoran tersebut mencapai 90 orang. Konfirmasi positif sebanyak itu diperoleh hanya dalam kurun kurang lebih satu pekan setelah temuan kasus awal pada 8 Oktober 2020.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi mengungkapkan, informasi mengenai adanya salah satu karyawan yang mengalami gejala sakit, sebenarnya sudah diketahui sejak tanggal 21 September 2020. Namun saat itu hanya dianggap penyakit flu biasa. "Perusahaan terlambat membuat keputusan. Begitu ada yang bergejala, tidak langsung diterapkan WFH (work from home)," kata Evi sapaan akrabnya saat dikonfirmasi, Jumat (16/10).

Sesuai aturan Instruksi Presiden Nomer 6 Tahun 2020, setiap perusahaan wajib memiliki Satgas Covid-19. Namun hingga munculnya klaster pada perkantoran itu, belum termonitor ada tidaknya Satgas Covid-19 di perusahaan tersebut. "Belum tahu apakah di sana sudah membentuk Satgas atau belum. Kemungkinan lain karena penerapan protokol kesehatan di kantor itu belum berjalan dengan baik," ungkap Evi yang juga menjabat Kabag Humas dan Protokol Setda Sleman.

Baca juga: Puluhan Karyawan Positif Covid, Perusahaan di Sleman Tetap Buka

Namun di lain sisi diakui bahwa pemahaman masyarakat tentang gejala infeksi Covid-19 belum optimal. Hal ini juga berkaca dari klaster pondok pesantren yang bermula dari adanya seorang santri yang mengeluh tidak bisa membaui. "Ini jadi catatan Dinas Kesehatan. Sekarang sedang dimatangkan formula sosialisasi yang efektif ke masyarakat agar tidak menyepelekan sakit flu," tukasnya.

Menindaklanjuti temuan klaster perkantoran, Gugus Tugas telah memberi sejumlah rekomendasi kepada perusahaan bersangkutan. Diantaranya menghentikan kegiatan gathering, disinfeksi area perkantoran, serta memfasilitasi tes PCR bagi karyawan, dan isolasi mandiri bagi staf yang terkonfirmasi positif asimptomatik.

Selain itu, perusahaan juga diminta menerapkan WFH untuk jenis pekerjaan tertentu. "Perusahaan tidak ditutup secara keseluruhan, tapi sebagian pekerjaan dijalankan secara daring," ujarnya.

Belajar dari kasus itu, pihaknya menyarankan instansi pemerintah maupun swasta agar segera melakukan skrining mandiri apabila ditemukan staf yang asimptomatis Covid-19 atau tanpa gejala.

Editor: Andika

Terkini

Sergio Oliviera Datang, AS Roma Kalahkan Cagliari

Senin, 17 Januari 2022 | 14:45 WIB

Federico Chiesa Alami Cedera ACL, Harus Jalani Operasi

Selasa, 11 Januari 2022 | 04:24 WIB
X