panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
Berita Utama
15 November 2011
Darmanto Jatman Ingin Menulis Lagi
LAMA tak terdengar kabarnya, dosen dan penyair Prof Drs Darmanto Jatman SU (69) ternyata tak kenal menyerah untuk mengatasi stroke yang dideritanya. Tanda-tanda perjuangan untuk sembuh dia tunjukkan di Rumah Balur, Jl Sri Rejeki Dalam 35 Semarang, belum lama ini.

Pak Dar datang ke tempat itu sekitar pukul 08.00, didampingi istrinya, Sri Muryati, dan sopir. Dari mobil hingga depan kamar balur dia naik kursi roda.  Ketika hendak masuk ke kamar balur, dia bangkit berdiri, lalu berjalan. Sekitar tiga meter dilaluinya dengan dengan langkah tertatih.

Kira-kira satu jam penyair itu diterapi. Saat jarum jam menunjukkan pukul 09.10, Darmanto keluar dan kembali ke kursi roda. Wajahnya tampak segar. Sebagaimana biasa, ia selalu berusaha menunjukkan senyum pada orang lain.

’’Kristin i love you, Fajar i love you’’.

Mendengar suaminya mengumbar ’’i love you’’, Sri Muryati senyum-senyum. Setelah terapi, Darmanto  memang selalu mengatakan ’’i love you’’ pada siapa saja yang menerapi atau memotivasinya agar cepat sembuh. Kristin adalah salah satu pengelola Rumah Balur.

’’Pak Dar, aku tunggu puisinya, ya,’’ kata Kristin ketika Darmanto hendak pulang.

Adapun Fajar adalah salah satu terapis atau pembalur di sana. Tubuhnya yang tinggi tegap  memungkinkannya dengan sigap mengangkat tubuh Darmanto ke tempat tidur balur yang dilapisi tembaga.

’’Aku mau ke Jogja. Aku mau menulis lagi...,’’ kata Pak Dar dalam intonasi yang lumayan jelas. Sang istri yang berdiri di sampingnya memegang pundak Darmanto dengan rasa sayang.

’’Ya Kung, banyak yang menunggu tulisanmu.’’  

’’Kung’’ (eyang kakung) adalah panggilan yang biasa diucapkan Cuplis, sang cucu (anak Abigail Wohing Ati, putri pertama Darmanto). Jogja adalah tempat Darmanto dibesarkan. Dia sekolah di Sekolah Rakyat hingga S-2 di kota itu. Di Jogja pula Darmanto membangun pondok untuk tempatnya istirahat, merenung,  dan berkarya setelah pensiun.

Belum lagi pembangunan pondok di Jogja  itu rampung, stroke menyerangnya pada Juni 2007.  Dia beberapa hari koma di RS Elisabeth Semarang. Setelah sadar,  kesehatanya tak dapat pulih sepenuhnya. Tangan kanannya lumpuh. Dia juga sulit berjalan, sehingga harus menggunakan kursi roda.

Terapi Rutin

Kamis (10/11) adalah kali ke-12 Darmanto melakukan terapi balur. Adalah teman baiknya, Hari Affandiñmantan ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Jawa Tengahóyang mendorongnya melakukan terapi itu.

Tidak mudah, karena salah satu ’’menu’’ terapi adalah menghisap divine kretek, yaitu rokok yang partikel asapnya diperkecil menjadi seukuran nano, sehingga kandungan nano-nikotinnya bisa menangkap radikal bebas dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.

’’Sampai sekarang pun Pak Darmanto belum mau merokok. Tapi asap divine kretek dimasukkan ke dalam jaringan sel tubuh melalui proses pengemposan di beberapa titik permukaan kulit tubuh. Kalau intensif, hasilnya baik,’’ kata Bian, salah seorang terapis yang menanganinya.

Terapi biasanya memakan waktu 2,5- jam. Setiap relawan (istilah untuk ’’pasien’’ di Rumah Balur), selain menjalani pembaluran, juga mendapat berbagai asupan asam amino dan asap divine kretek. Berbeda dari pasien lain, Darmanto minta terapi atas dirinya dilakukan dengan cepat.

’’Kami  memang harus memperhitungkan kebutuhan dan emosi relawan yang mendapat terapi di sini,’’ kata Bian yang banyak menangani pasien-pasien stroke.

Sri Muryati juga merasa agak surprise, suaminya mau menjalani terapi setiap Selasa dan Kamis, karena pada awalnya menolak.

Setelah 12 kali terapi, hasilnya lumayan positif. Secara fisik, tangan kanan bisa diangkat, kaki kanan juga bisa ditekuk dan diluruskan. Tidur pun lebih nyenyak.

’’Yang paling menggembirakan, daya ingatnya membaik, dan orang yang diajak komunikasi pun lebih mengerti. Yang terpenting, motivasinya untuk sembuh semakin tinggi,’’ kata Sri Muryati, pengajar di Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Mengenai kaitan antara terapi balur dan proses penyembuhan stroke, dokter Tony Priliono, pengelola Rumah Balur, mengatakan, pada prinsipnya, proses balur adalah detoksifikasi dari radikal bebas, termasuk  radikal bebas unsur merkuri (Hg) yang  paling sulit diatasi. Dalam jumlah berlebih, radikal bebas Hg bisa mengganggu fungsi organ-organ tubuh sehingga mengakibatkan penyakit seperti kanker, juga alergi, autis, dan lainnya.

Setelah proses detoksifikasi, mekanisme tubuh yang kompleks akan melakukan pemulihan.  (Anto Prabowo-59)

Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Panel menu
FOOTER