
Sudah lama wanita pasrah, terkungkung dalam tembok kekuasaan pria, dan lalu Kartini datang mencerahkan dunia kaum hawa dengan semangat pemikiran emansipasi. Semangat itu seperti virus, merasuk ke dalam jiwa dan pemikiran wanita yang tak ingin lagi dianggap konvensional. Cara berpikir modern jelas menjadikan mereka pribadi-pribadi yang sarat kesuksesan.
Namun, adakalanya cita-cita wanita terbentur pada kodrat, yang sejatinya masih mempersoalkan gender dan 'peran ganda'. Inilah yang membuat wanita terjebak pada keadaaan bahwa dirinya tak akan bisa tampil maksimal saat terjun ke dunia kerja, pasalnya, ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya.
Ya, sosok istri sekaligus ibu, tak ayal harus dibagi dengan sosok lain di luar ranah rumah, sebagai pribadi profesional. Sementara, dasar yang diperlukan untuk berprestasi adalah menemukan keunggulan diri. Padahal, jika sudah berniat terjun ke dalam ranah dunia kerja, wanita diharapkan tak selamanya terpaku pada sikap lemah lembutnya.
Ingat, persaingan dan ancaman di dunia kerja mengintai, membabat habis Anda yang hanya mengharap orang lain menaruh simpati pada label feminin yang melekat pada diri Anda. Faktanya, masih banyak wanita yang tidak memanfaatkan sisi feminitasnya sebagai kekuatan untuk mendobrak, mengubah paradigma lama.
Sikap feminin yang terbangun dalam dunia kerja diaplikasikan ke dalam sikap melebur ke bawah, ke atas, ke segala penjuru, membangun jalinan koneksi yang kuat dan solid, serta merawat hubungan profesional tersebut sebagai hubungan mutualisme, atau saling menguntungkan. Sikap-sikap tersebut adalah modal penting untuk menjalankan kepemimpinan efektif.
Memasuki dunia kerja adalah kesempatan untuk membuktikan diri, wanita tak selamanya lemah, tak membutuhkan privilege atau mengambil keuntungan sendiri karena feminitas yang dibawanya. Totalitas perlu dimunculkan sebagai kesediaan untuk berkorban, dan berpartisipasi demi tim. Bahwa dibalik tim yang solid, ada wanita kuat yang berdiri sebagai pionner.
(maya/CN19)