
SEMARANG, suaramerdeka.com - Perseteruan antara manajemen PSIS dengan Ancora sebagai penyandang dana kembali memanas. Merasa jerih payah tidak dihargai, Direktur Operasional PSIS Novel Al Bakrie mengancam akan menghentikan kerja sama dengan Ancora.
Untuk sementara waktu, pihaknya juga akan menyetop pembiayaan dari perusahaan asal Jakarta itu hingga permasalahan terselesaikan. Sekaligus mengembalikan uang yang dikeluarkan dari Ancora untuk skuad Mahesa Jenar selama tiga bulan terakhir, sejumlah Rp 3,8 miliar.
"Kerjasama harus dikaji ulang. Bila Ancora masih menggunakan sistem lama yang semena-mena sebaiknya diakhiri saja. Sebenarnya tidak ada masalah dengan Ancora. Mereka adalah perusahaan besar yang dipimpin orang-orang hebat, kami mengucapkan terima kasih. Hanya beberapa oknum saja yang membuat masalah," tegas Novel.
Mengganggapi hal itu, perwakilan dari Ancora Fandayani Soesilo mengatakan, yang pasti pihaknya akan menegakkan seluruh peraturan manajemen. Ditambahkannya, dalam perusahaan sepak bola, semuanya harus dikelola secara profesional dan tidak ada korupsi.
"Mana ada uang investor dihabiskan tanpa ada pertanggungjawaban yang benar? dan masih banyak lagi yang masih harus kami tegaskan agar ke depan menuju yang terbaik. Bukan dengan cara semena-mena seperti direktur menguasai semua, seakan-akan semuanya miliknya pribadi," tegas wanita yang akrab disapa Fanda ini.
Konflik di jajaran manajemen dan pemegang saham berpengaruh kepada pemain yang tengah bersiap menghadapi laga melawan Persipasi Bekasi. Rabu malam, Donny Siregar cs dibuat bingung lantaran kedua belah pihak memberikan tawaran yang berbeda dalam keberangkatan ke Jakarta Timur.
Pihak manajemen PSIS menawarkan untuk berangkat menggunakan kereta api, Kamis (23/2) pagi, sedangkan pihak Ancora melalui wakilnya Warsa Susilo menawarkan kepada para pemain dan pelatih untuk berangkat menggunakan bus, Rabu (22/2) malam.
Seorang punggawa PSIS yang enggan disebutkan namanya mengatakan, seluruh pemain merasa serba salah dan dilema terkait konflik manajemen yang terjadi. Sebagai pemain profesional, dirinya ingin memberikan yang terbaik untuk tim, namun selalu diganggu dengan suasa tim yang tidak kondusif.
(Hendra Setiawan/CN26)