
SETIAP hari berada di lapangan bola, namun tidak bermain sepak bola. Hal itu dilakoni Hermansyah, pelatih kiper Persis Solo versi Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Mantan kiper Timnas PSSI (era 1980-1990-an) tersebut punya tanggung jawab meningkatkan performa Sandi Firmansyah, Dwi Adi Nugrahanto, Johan Setiawan dan M Budiantoro (pemain magang).
Rutininas tersebut membuatnya seringkali kangen bermain bola. Pria kelahiran Sukabumi, 17 Agustus 1963 itu pun berkali-kali meminta wartawan yang biasa meliput olahraga di Kota Bengawan, untuk mengajaknya kembali bermain bola. "Kangen juga, nih. Masak tiap hari di lapangan, tapi jarang main bola. Ayo, kapan kita main bareng lagi, mas," kata Herman, Rabu (22/2).
Memang, dunia bola tak terpisahkan dari kehidupan kiper yang mengawal gawang skuad Merah-Putih di ajang final King Cup Thailand 1995.
Maka ketika Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Surakarta mengajak tim pelatih Persis Persis LPIS untuk ikut laga persahabatan versus tim Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jateng (10/2), Herman pun langsung merapat ke Stadion Manahan bersama pelatih kepala Junaidi. Dia mengamankan gawang skuad Siwo sepanjang babak kedua.
"Saat di Jakarta dulu, aku sering main bareng teman-teman wartawan di Senayan. Maka kalau teman-teman Siwo Solo main, jangan lupa aku diajak ya," tutur lelaki yang mengakhiri kariernya sebagai pemain di tim Persikota Jakarta tahun 1999 itu.
Suami Hadiah Aryanti tersebut mengaku sangat nyaman turut memoles tim di Kota Bengawan. Menurutnya, atmosfir sepak bola di Solo sangat bagus. Lebih-lebih ada dukungan total dari suporter Pasoepati terhadap skuad Laskar Sambernyawa. "Memang nuansanya sangat menyenangkan. Dukungan Pasoepati dan kalangan pecinta bola di Solo juga luar biasa,'' ujar Herman.
(Setyo Wiyono/CN26)