
MESKI lahir di Sukoharjo, 20 Agustus 1991 lalu, namun Arif Nur Cahyo besar di Semarang. Hatinya pun telah menyatu dengan kota yang terkenal dengan makanan khasnya Lumpia. Mengikuti jejak sang ayah, Arif menjadi salah satu petenis meja andalan Semarang.
Olahraga itu telah ditekuninya sejak duduk di bangku SD Kedungmundu 01. Dia tertarik lantaran sering melihat sang ayah yakni Sugiarsa bertanding. Bakatnya terus diasah langsung di bawah arahan sang ayah. Di tengah kesibukannya belajar, dia menyempatkan waktu berlatih minimal dua jam sehari.
Kemampuannya terus meningkat setelah dia lulus dari SMPN 29 Semarang, dan SMA Walisongo. Kini beberapa prestasi telah ditorehkan oleh mahasiswa semester 6 Jurusan Manajemen STIE Totalwin Semarang. Di antaranya peringkat 3 Popda Jateng 2008 lalu, dan Juara I turnamen tenis meja di Kebumen setahun berikutnya.
Belum lama ini, dirinya juga telah lolos dalam kualifikasi tingkat Kota Semarang. Bersama tiga atlet lainnya, Arif akan disiapkan menghadapi Porprov Banyumas 2013 mendatang. "Keinginan saya adalah menyumbangkan medali emas bagi Kota Semarang," papar pria yang kini berlatih bersama klub tenis meja Bara Semarang itu.
Dua Kali
Selama 15 tahun menekuni olahraga tenis meja, atlet bertinggi 170 sentimeter dan berat 65 kilogram itu mengaku baru dua kali mengganti bet (pemukul dalam tenis meja). Pergantian itu baru dilakukan saat dia duduk di bangku universitas, tiga tahun silam.
Minimnya pergantian itu dilakukan bukan karena tidak punya uang untuk membeli yang baru. Namun lebih kepada kecocokan dengan alat yang digunakan. Saat masih kecil, dia menggunakan bet dengan kayu yang keras, sedangkan saat ini kayu yang digunakan lebih lunak.
Dia mengatakan, bila menggunkan kayu yang keras akan menambah kecepatan bola hasil pukulan. Namun kelemahannya adalah sulit mengontrol bola. Sebaliknya, kayu yang lunak menyebabkan kecepatan bola sedikit menurun, tetapi lebih mudah dikontrol dan diarahkan.
"Kalau sering berganti-ganti bet akan mempengaruhi permainan. Saya juga harus menyesuaikan dengan karakter bet karena satu sama lain berlainan. Kalau tidak benar-benar terpaksa karena rusak atau hilang, saya sangat menghindari pergantian bet," papar pemuda yang tinggal di Jalan Sendang Teratai nomor 26, Sendangguwo Pedurungan itu.
(Hendra Setiawan/CN26)