
JAKARTA, suaramerdeka.com - Ketua Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) Tony Aprilani mengatakan, PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin harus menghilangkan dikotomi antara kompetisi IPL (Indonesia Premier League) dan ISL (Indonesia Super) League.
Sejauh ini, dua kompetisi tersebut saling berjalan sendiri dengan payung berbeda. IPL menginduk di PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS) yang dibentuk PSSI, sedangkan ISL menginduk di PT Liga Indonesia (PT LI) yang mengacu ke KPSI.
"Kasus Persipura yang menang gugatan terhadap PSSI telah jelas. Klub ini sudah memenangkan gugatan di CAS. Jadi, tidak ada alasan bagi PSSI untuk mengeliminir kompetisi yang berjalan sendiri," ujar Tony di Jakarta, Senin (6/2).
Dia pun mencontohkan pernyataan yang disampaikan Menpora Andi Mallarangeng yang menyebutkan bahwa setiap warga negara yang berkualitas mempunyai hak untuk membela negara, dalam hal ini adalah timnas Merah Putih. "Pemerintah saja sudah berkata begitu, kalau saja Djohar tidak mau mengambil pemain timnas dari ISL, berarti kedudukan dia lebih tinggi dari Menpora," tandasnya.
Sejak kompetisi terbelah, PSSI tak lagi mengakui klub-klub ISL, begitu pula para pemainnya. Sehingga, timnas yang disiapkan ke ajang kualifikasi Pra-Piala Dunia (PPD) melawan Bahrain 29 Februari mendatang, pemainnya hanya diambilkan dari klub-klub IPL. Itupun, hanya usia di bawah 23 tahun.
Kebijakan seperti itu mendapat kritikan tajam dari berbagai elemen masyarakat karena telah memutus generasi pemain timnas seperti Bambang Pamungkas, Firman Utina dan kawan-kawan.
(Arif M Iqbal/CN26)