
MESKI sudah tidak lagi menjadi seorang atlet, tidak lantas membuat Wiwies Widowati Apriana S.Pd meninggalkan dunia taekwondo. Ya, ibarat pepatah kacang tidak lupa akan kulitnya, mantan taekwondoin andalan Semarang dan Jateng ini memilih menjadi pelatih taekwondo semenjak memutuskan pensiun dari olahraga yang membesarkan namanya itu, 2008 silam.
Wanita kelahiran 11 April 1980 ini mengatakan keinginan untuk menjadi pelatih memang sudah diretas semenjak masih menjadi atlet. Ia menambahkan alasannya menjadi pelatih, selain karena keinginan, dirinya ingin menularkan ilmu dan pengalamannya sewaktu menjadi atlet kepada para yunior.
Maklum, sebelum terjun ke dunia kepelatihan, Wiwies memang dikenal sebagai taekwondoin handal yang telah menorehkan sejumlah prestasi gemilang baik di tingkat lokal maupun nasional.
Tercatat, Wiwies pernah menyumbangkan emas bagi Jateng di kelas fin putri pada PON 2000, emas Kejurda Jateng 1999 serta dua kali meraih emas pada Porda 2001 dan 2005. Lalu, meraih emas pada Pomnas 2005 di kelas fly dan terakhir, meraih emas kelas bantam putri pada Gubernur Cup 2008.
Dengan segudang prestasi gemilang dan pengalaman yang dimiliki, Wiwies pun mantap memilih jalan untuk menjadi pelatih. "Rasanya akan sia-sia saja, jika ilmu dan pengalaman saya sewaktu menjadi atlet dulu tidak ditularkan kepada atlet yunior. Siapa tahu ilmu dan pengalaman yang saya tularkan itu nantinya bisa bermanfaat bagi perkembangan mereka," tutur wanita yang kini melatih di "dojang" Jatidiri dan PPLPD Jateng ini.
Masih Perlu BelajarPutri pasangan Sucipto (Alm) dan Endang Wahyuningsih S ini mengatakan tidak mengalami kesulitan dalam menjalani peran sebagai pelatih. Ia mengaku menikmati perannya sekarang. Meski demikian, Wiwies mengaku masih butuh banyak belajar untuk menjadi seorang pelatih taekwondo handal.
"Rasanya hanya dengan bermodal prestasi dan pengalaman saja belum cukup untuk membuat saya menjadi seorang pelatih handal. Makanya, saya masih harus banyak belajar baik dari sesama pelatih maupun secara mandiri," tutur wanita bertinggi 155 cm dan berat 56 kg ini.
Meski masih perlu banyak belajar, lulusan FIK Unnes ini mengaku optimis, dirinya bisa menjadi seorang pelatih taekwondoin yang handal dan mampu melahirkan para taekwondoin handal yang mampu menghasilkan prestasi bagi Semarang dan Jateng. Dikatakan, posisinya sebagai pelatih ini tidak menganggu pekerjaannya sebagai staf kepegawaian di Dinsospora Semarang.
Jika tidak sedang melatih dan bekerja, wanita yang tinggal di Perum Polri Durenan Indah Blok LL/3, Mangun Harjo, Semarang ini lebih sering menghabiskan waktunya untuk beristirahat di rumah ataupun menonton film. "Selain hobi, menonton film juga bisa menghilangkan kepenatan dan stres serta membuat saya rileks," pungkasnya.
(Andika Primasiwi/gusti_an)